Selain tubuh, pikiran juga membutuhkan waktu untuk beristirahat. Setelah berjam-jam bekerja atau beraktivitas, seseorang bisa mengambil jeda untuk melakukan hal yang membuat lebih rileks.
Membaca buku, mendengarkan musik, berjalan santai, melakukan hobi, berbincang dengan orang terdekat, atau sekadar duduk tanpa memikirkan pekerjaan untuk beberapa saat bisa menjadi pilihan.
WHO memasukkan hubungan dengan orang lain sebagai salah satu contoh kebiasaan yang mendukung kesejahteraan. Artinya, menjaga hubungan sosial juga dapat menjadi bagian dari upaya merawat diri.
Merawat diri bukan berarti harus menyelesaikan semua persoalan sendirian. Ada kalanya seseorang membutuhkan bantuan orang lain, baik untuk urusan sehari-hari maupun ketika menghadapi masalah kesehatan.
WHO menegaskan bahwa praktik perawatan diri tidak dimaksudkan untuk menggantikan sistem kesehatan atau tenaga kesehatan, melainkan melengkapinya. Karena itu, ketika muncul keluhan kesehatan yang membutuhkan pemeriksaan atau penanganan, berkonsultasi dengan tenaga profesional tetap penting.
Pada akhirnya, merawat diri di tengah kesibukan tidak harus dilakukan dengan perubahan besar. Menyediakan waktu untuk istirahat, bergerak, memperhatikan makanan, mengambil jeda, dan mencari bantuan ketika diperlukan bisa dimulai sedikit demi sedikit.
Yang terpenting bukan seberapa banyak waktu yang dimiliki, tetapi bagaimana waktu yang ada digunakan untuk menjaga kesehatan tubuh dan pikiran.