Ia mengatakan jumlah siswa yang terdampak bukan 481 seperti yang diberitakan, tetapi 13 orang.
"Soal peristiwa yang berdampak terhadap kesehatan di Bogor tersebut, kami ingin klarifikasi bahwa jumlah korbannya tidak 400 orang seperti yang diberitakan oleh sejumlah media. Yang benar adalah, sampai dengan sore hari ini, jumlah korban atau kita menyebutnya mereka yang terdampak dan masih dalam observasi, itu sebanyak 13 orang," ujar Tysa.
Ia mengatakan informasi tersebut mereka dapatkan dari tim di lapangan yang terdiri dari BGN Pusat, Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG), dan tim asistensi.
Menurut Tysa, para siswa menyantap MBG bukan pada Selasa, melainkan pada Senin (26/10) siang. Pada Selasa dini hari baru ada siswa yang mengeluhkan diare.
"Sebetulnya peristiwa ini adalah peristiwa makannya kemarin siang, kemudian dini hari ada beberapa siswa yang mengeluhkan kena diare," ujar Tysa.
Tysa pun menjelaskan awal mula angka 400 tersebut bisa keluar. Awalnya, pada Selasa pagi guru di sekolah tersebut mengumpulkan siswa yang mengkonsumsi MBG pada hari Senin. Mereka ditanya mengalami sakit perut atau tidak.
Jumlah siswa yang menjawab merasakan sakit perut ada 400 orang, kemudian mereka dibawa ke rumah sakit terdekat.
"Dari siswa tersebut ketika ditanya, mereka mungkin ada rasa seperti psikosomatis ya, ada yang ditanyakan ada rasa sakit perut enggak? Akhirnya 400 orang bilang kayaknya saya sakit perut. Nah, kemudian 400-nya itu dibawa ke rumah sakit terdekat," ujar Tysa.