Kendati demikian, ada hal lain yang perlu diperhatikan, yaitu ketika bagian padat Bumi dan lautan diperhitungkan secara bersamaan.

Perhitungan tersebut menemukan Bumi justru semakin pipih dengan laju sekitar 0,03 inci atau 0,8 milimeter per tahun. Kondisi ini terjadi karena lautan semakin menggembung di sekitar khatulistiwa akibat perpindahan massa air dari wilayah kutub.

Dengan kata lain, tambahan massa air tersebut memberikan pengaruh lebih besar dibandingkan proses pembulatan yang terjadi pada batuan di bawahnya.

Penelitian lain menunjukkan bahwa perubahan-perubahan ini turut memperlambat rotasi Bumi.

Para peneliti turut memantau perubahan bentuk Bumi menggunakan pengukuran medan gravitasinya. Medan gravitasi Bumi diketahui bervariasi bergantung pada massa di wilayah tertentu.

Kotsakis menemukan bahwa perubahan yang terukur melalui GNSS dan pengukuran medan gravitasi tidak sepenuhnya sesuai. Hal ini menunjukkan perubahan bentuk Bumi dan medan gravitasinya tidak selalu seiring.

Kedua metode ini dapat digunakan secara bersamaan untuk memantau dapak utama perubahan iklim, terutama mencairnya lapisan es di Greenland dan Antarktika serta perubahan pergerakan air laut.