NADIKABAR.COM — Setiap pagi, puluhan siswa berseragam putih-merah tampak bersemangat menuju SDN Karyamukti di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Mereka tetap belajar meski sebagian harus menempati ruang kelas beratap terpal tanpa dinding.

Selama tiga tahun terakhir, 60 siswa sekolah tersebut hanya dapat memanfaatkan empat ruang kelas. Kondisi itu terjadi setelah dua ruang kelas lainnya ambruk akibat gempa berkekuatan magnitudo 5,6 pada 2022.

Untuk menampung siswa kelas 5 dan 6, pihak sekolah terpaksa mendirikan ruang kelas darurat beratap terpal di halaman sekolah. Fasilitas sederhana tersebut menjadi alternatif agar kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung.

Tanpa dinding penyekat, ruang kelas darurat berukuran 6 x 4 meter persegi itu hanya mengandalkan papan tulis putih yang sudah rusak sebagai pembatas antarkelas. Tidak jarang kegiatan belajar harus dihentikan sebelum waktunya ketika hujan mulai turun.

Sementara itu, siswa kelas 1 hingga kelas 4 masih menggunakan ruang kelas yang kondisinya tidak layak dan rawan ambruk. Dinding bangunan dipenuhi retakan, mulai dari kerusakan kecil hingga retakan besar yang terlihat di hampir seluruh ruangan.

Bagian atap juga mengalami kerusakan. Sejumlah genting pecah atau bergeser dari tempatnya sehingga menyisakan lubang tanpa langit-langit. Ketika cuaca mulai mendung, pihak sekolah segera menghentikan kegiatan belajar untuk menghindari risiko bagi siswa.

Bangunan sekolah yang berdiri sejak 1965 itu belum pernah mendapat perbaikan menyeluruh. Setelah gempa pada 2022 itu, dua ruang kelas rusak nyaris rata dengan tanah, sedangkan empat ruang kelas lainnya mengalami kerusakan sedang hingga berat.

Hingga 2026, kondisi bangunan yang sebelumnya rusak sedang semakin memburuk dan sebagian yang rusak berat tidak lagi layak digunakan. Namun, ruang-ruang tersebut masih dimanfaatkan karena sekolah belum memiliki fasilitas pengganti.

"Ketika cuaca mendung sudah pasti kelas dibubarkan karena ruangan kelas yang tersisa kondisinya tambah rusak termasuk di bagian atap, sedangkan ketika kemarau anak-anak kerap mengeluh karena kelasnya beratap terpal," kata Kepala SDN Karyamukti Ninu Parwati, akhir Oktober 2026.