NADIKABAR.COM — Menonton film horor biasanya dilakukan untuk mengisi waktu luang bagi sebagian orang. Adegan yang menantang adrenalin akan menimbulkan rasa seru saat menontonnya.
Di balik adegan mencekam, genre horor ternyata memicu aktivitas otak, respon fisik, dan memiliki dampak positif bagi penontonnya. Simak penjelasannya di bawah ini.
Film horor menggunakan berbagai trik psikologis untuk menciptakan ilusi ketegangan dan bahaya melalui perpaduan gambar, suara, dan alur cerita. Otak akan menyadari bahwa ancaman tersebut tidak nyata tetapi tubuh akan menangkapnya seakan-akan menghadapi bahaya sungguhan.
Menonton film horor akan menyebabkan jantung berdebar dengan cepat, melepaskan adrenalin, dan tingkat fokus yang tinggi terhadap film. Respon tersebut tetap muncul meskipun seseorang menyadari dirinya berada di tempat aman seperti bioskop atau rumah.
Film horor memang diciptakan untuk memunculkan reaksi takut, tegang, stres, dan terkejut. Emosi tersebut dapat mendorong sistem saraf otonom untuk melepaskan hormon norepinefrin, kortisol, dan adrenalin. Pelepasan hormon tersebut akan membuat pupil mata membesar, jantung berdegup kencang, dan otot yang tegang.
Melansir dari Everyday Health, perasaan takut akan membuat otak menganalisis ancaman yang sedang dihadapi. Otak akan memproses berbagai pertanyaan tentang apakah situasi ini pernah dialami sebelumnya, bagaimana untuk menghadapinya, apakah ancaman itu terasa asing atau justru sebaliknya, dan bagaimana reaksi orang lain.
Terdapat beberapa bagian otak yang aktif saat menonton film horor, seperti amigdala yang memproses rasa takut serta lobus frontal yang penting untuk penalaran dan perencanaan. Penelitian menemukan bahwa rasa takut saat menonton film horor dapat mendorong area otak yang memproses informasi visual dan auditori menjadi lebih aktif.
Saat adegan menegangkan selesai, aktivitas otak yang berhubungan dengan pengolahan emosi, penilaian ancaman, dan pengambilan keputusan juga naik. Stimulasi ini mendorong rasa bahagia dan kemampuan untuk memecahkan masalah di bawah tekanan.
Film horor juga bisa merangsang pemikiran kritis tentang berbagai persoalan seperti kekerasan, ketimpangan sosial, keadaan mental, ekonomi, dan masih banyak hal lainnya. Kisah dari film horor juga biasanya berkaitan dengan kehidupan sehari-hari sehingga penonton bisa mengeksplorasi isu-isu sosial.
Respons otak terhadap terhadap ancaman nyata berbeda dengan ancaman saat menonton film. Saat menonton film horor, seseorang sadar bahwa situasi mencekam hanyalah fiksi. Oleh karena itu, penonton bisa menikmati sensasi yang timbul termasuk efek endorfin serta mendorong aliran oksigen ke otak tanpa menghadapi bahaya langsung.
Mengutip Healthline, film horor ternyata memberikan efek positif bagi penontonnya walaupun diwarnai oleh adegan mengerikan. Penonton memiliki berbagai alasan untuk menyukai film horor sehingga menontonnya memberikan pengaruh positif.
Film horor bisa menjadi momen untuk menghadapi rasa takut. Adegan yang dipenuhi rasa tegang dan cemas akan terasa sangat lega saat konflik terselesaikan. Kondisi ini sangat baik untuk penonton yang memiliki gangguan kesehatan tertentu.
Film horor juga akan melatih seseorang yang sedang menjalani perawatan untuk gangguan kecemasan atau OCD untuk menghadapi ketakutan dan meyakinkan dirinya bahwa mereka bisa bertahan untuk menghadapi ancaman saat menonton film horor.