"Teknologi yang digunakan di CO2 ABG ini sama dengan teknologi pada umumnya yaitu dengan menggunakan sirkulasi amina. Namun yang perlu di-highlight di sini adalah 65% CO2 content di ABG ini merupakan plant pertama di dunia mungkin, yang bisa memproduksikan atau memproses kandungan CO2 menjadi 5%," jelasnya.
Keberhasilan pemrosesan ini membuat gas alam yang awalnya tidak bisa digunakan sebagai sumber energi, kini memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi di pasar energi nasional. Dalam hal ini fasilitas SP-ABG mampu mengolah gas dengan tingkat impurities tinggi sebesar 10 - 11 MMSCFD (Million Standard Cubic Feet per Day) jadi gas bersih sebanyak 3,3 - 3,5 MMSCFD.
"Gas dari ABG merupakan gas (harga) terbesar yang dijual ke konsumen sebesar US$ 9 per MMBTU-nya gitu," ungkapnya.
Dalam hal ini Dedy mengatakan ke depan Pertamina EP berencana untuk menaikkan kapasitas pemrosesan hingga 22 MMSCFD feed gas demi menghasilkan 8 MMSCFD gas bersih melalui sejumlah tahapan teknis, termasuk penuntasan rekomendasi fasilitas Thermal Oxidizer (TOX).