Laporan terbaru Climate Impact Lab memperkirakan suhu daratan global dapat berada sekitar 1,2 derajat Celsius di atas normal dalam beberapa bulan mendatang. Kondisi tersebut diperkirakan meningkatkan jumlah hari dengan panas ekstrem sekitar 44% dibandingkan tahun-tahun normal.
Menurut peneliti, panas ekstrem menjadi penyebab utama dari proyeksi 451.000 kematian tersebut. Namun, dampak Super El Niño tidak berhenti pada suhu tinggi.
Kekeringan, kebakaran hutan, perubahan pola hujan, dan banjir juga berpotensi menimbulkan dampak tambahan terhadap masyarakat. Gangguan tersebut dapat berpengaruh terhadap kesehatan, ketersediaan air, hingga ketahanan pangan.
Michael Greenstone, salah satu pendiri Climate Impact Lab sekaligus profesor ekonomi di University of Chicago, mengatakan para ilmuwan kini mulai dapat memperkirakan dampak perubahan suhu terhadap kematian manusia.
"Kita sudah lama dapat memprediksi dampak suhu terhadap tanaman, dan sekarang kita dapat memprediksi dampaknya terhadap hasil terburuk-kematian. Hasilnya, kini kita dapat memperkirakan bahwa 451.000 orang mungkin meninggal dalam beberapa bulan mendatang akibat El Nino," ujarnya, seperti dikutip dari laporan Climate Impact Lab.
Greenstone menambahkan bahwa angka tersebut sangat besar sehingga sulit dibayangkan, tetapi setiap angka merepresentasikan manusia yang menjalani kehidupan sehari-hari bersama keluarga dan komunitasnya.
Dampak panas ekstrem diperkirakan cukup besar di Asia Tenggara. Selain Indonesia, Filipina, Vietnam, Thailand, dan Kamboja secara bersama-sama diproyeksikan mengalami sekitar 19.400 kematian tambahan akibat panas.