Di kawasan Sahel, Afrika, jumlahnya bahkan diperkirakan mencapai 66.800 kematian tambahan. Nigeria sendiri diproyeksikan menyumbang hampir setengah dari angka tersebut. Para peneliti menekankan bahwa proyeksi ini dapat berubah seiring perkembangan El Nino. Jika fenomena tersebut bertahan lebih lama hingga 2027, jumlah kematian tambahan juga berpotensi meningkat, terutama ketika wilayah belahan bumi utara memasuki musim panas.
Climate Impact Lab menggambarkan Super El Niño kali ini sebagai 'postcard from our future' atau 'kartu pos dari masa depan'. Istilah tersebut digunakan karena suhu yang diproyeksikan terjadi saat El Niño kali ini menyerupai kondisi panas yang menurut penelitian dapat menjadi normal dalam beberapa dekade mendatang akibat pemanasan global.
Tamma Carleton, salah satu penulis laporan sekaligus peneliti di University of California, Berkeley, mengatakan respons darurat dapat membantu menyelamatkan banyak nyawa dalam jangka pendek. Namun, menurutnya, masyarakat tidak bisa terus-menerus berada dalam kondisi darurat ketika suhu ekstrem menjadi semakin umum.
"Kita perlu mengerahkan sumber daya sekarang untuk merancang, menerapkan, dan mengevaluasi berbagai alat persiapan serta perencanaan yang akan menyelamatkan nyawa di tahun-tahun mendatang," sebutnya.
Dalam studi ini, para peneliti menggunakan data hubungan antara suhu dan kematian akibat panas dari 24.378 wilayah di dunia, kemudian menggabungkannya dengan proyeksi kenaikan suhu akibat El Nino.
Hasilnya digunakan untuk mengidentifikasi wilayah yang diperkirakan paling rentan sehingga langkah seperti sistem peringatan panas, pusat pendinginan, fasilitas kesehatan tambahan, serta perlindungan bagi pekerja luar ruangan dapat dipersiapkan lebih dini. Climate Impact Lab menyatakan proyeksi tersebut akan diperbarui seiring El Nino berkembang.