"Sentimen investasi turun. Ini yang kita lihat sejalan dengan tingginya biaya modal dan ketidakpastian kurs yang tinggi juga," ujarnya.
Meski demikian, survei tersebut berbeda dengan gambaran investasi secara agregat. Realisasi investasi pada kuartal II 2026 tercatat mencapai Rp511,78 triliun, tumbuh 7,1 persen secara tahunan.
Menurut Kadin, angka tersebut antara lain ditopang kegiatan hilirisasi dan proyek-proyek berskala besar, sementara minat investasi pelaku usaha secara lebih luas justru melemah.
Pelemahan minat investasi juga tidak terjadi secara merata pada seluruh skala usaha. Pada kuartal III 2026, usaha besar mencatat proporsi pengusaha yang setuju berinvestasi paling tinggi, yakni 42,4 persen. Angka tersebut relatif stabil dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai 40 persen.
Namun, proporsi pengusaha usaha besar yang tidak setuju berinvestasi meningkat dari 32,7 persen menjadi 39,4 persen. Sementara itu, kelompok yang bersikap netral turun dari 27,3 persen menjadi 18,2 persen.
Pada usaha kecil dan menengah, proporsi yang setuju berinvestasi meningkat dari 27,3 persen pada kuartal II menjadi 36,5 persen pada kuartal III 2026. Meski demikian, kelompok yang tidak setuju masih lebih besar, yakni 46,1 persen, sedangkan 17,4 persen lainnya bersikap netral.
Adapun pada usaha mikro, proporsi pengusaha yang setuju berinvestasi turun dari 36,1 persen menjadi 28 persen. Kelompok yang memilih sikap netral meningkat dari 24,3 persen menjadi 35,7 persen, sedangkan 36,3 persen menyatakan tidak setuju berinvestasi.
Data tersebut menunjukkan usaha mikro cenderung menahan keputusan investasi, sedangkan usaha kecil dan menengah masih menghadapi keraguan meski sebagian mulai melihat peluang ekspansi.