NADIKABAR.COM — Minat pelaku usaha untuk berinvestasi dalam enam bulan ke depan terus melemah. Survei Kadin Indonesia Business Pulse Kuartal III 2026 menunjukkan hanya 32,4 persen pengusaha yang menyatakan setuju melakukan investasi, turun dari 34,4 persen pada kuartal II 2026.
Direktur Insights Kadin Indonesia Institute Fakhrul Fulvian mengatakan pelemahan tersebut terjadi meski tekanan bisnis mulai mereda. Kondisi itu menunjukkan pelaku usaha belum sepenuhnya yakin untuk memperluas bisnis dan masih cenderung menunggu kepastian kondisi ekonomi serta arah kebijakan pemerintah.
"Tekanan mereda, tapi pelaku usaha banyaknya berubahnya enggak ke optimistis. Dari tadinya bisnis agak dilihat agak berat, itu berubah menjadi wait and see," kata Fakhrul dalam paparan survei Kadin Indonesia Business Pulse Kuartal III 2026 di Menara Kadin, Jakarta Selatan, Kamis (22/10).
Adapun survei yang dilakukan pada 14-30 September 2026 itu melibatkan 330 anggota Kadin yang tersebar di 28 provinsi dan berbagai sektor industri. Survei menggunakan metode random sampling secara daring melalui WhatsApp dan formulir survei online, dengan margin of error 5,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Data Kadin menunjukkan proporsi pengusaha yang menyatakan setuju berinvestasi dalam enam bulan ke depan terus turun sejak kuartal IV 2025. Pada periode tersebut, porsinya masih mencapai 47,1 persen, kemudian turun menjadi 38,6 persen pada kuartal I 2026, lalu 34,4 persen pada kuartal II 2026, dan kembali turun menjadi 32,4 persen pada kuartal III 2026.
Sebaliknya, proporsi pengusaha yang menyatakan tidak setuju untuk berinvestasi sempat meningkat dari 24,5 persen pada kuartal IV 2025 menjadi 39 persen pada kuartal I 2026 dan 43,5 persen pada kuartal II 2026. Pada kuartal III 2026, angkanya turun menjadi 40 persen.
Sementara itu, kelompok yang menjawab biasa saja atau bersikap netral meningkat dari 22,1 persen pada kuartal II 2026 menjadi 27,6 persen pada kuartal III 2026. Pergeseran tersebut mengindikasikan sebagian pelaku usaha memilih menahan keputusan ekspansi ketimbang langsung menambah investasi.
Fakhrul mengatakan pelemahan minat investasi sejalan dengan tingginya biaya modal dan ketidakpastian nilai tukar. Rupiah yang terdepresiasi juga berpotensi meningkatkan biaya pengadaan barang modal impor.