NADIKABAR.COM — Pusat data AI semakin tidak populer di kalangan warga Amerika Serikat, hingga menjadi topik penting menjelang pemilu midterm 2026. Mengantisipasi penolakan yang lebih kencang, OpenAI mengusulkan nama baru untuk pusat data untuk memperbaiki citranya.
Nama baru yang diusulkan adalah 'compute campuses' atau kampus komputasi. Rencana untuk mengubah citra pusat data ini sudah dikonfirmasi oleh juru bicara OpenAI.
"Kampus komputasi lebih tempat menggambarkan skala infrastruktur yang kami bangun untuk AI," kata juru bicara OpenAI, seperti dikutip dari Business Insider, Senin (2/11/2026).
"Ini adalah investasi jangka panjang dalam komputasi, infrastruktur energi, dan tenaga kerja terampil," sambungnya.
Menurut survei Pew Research pada September 2026, pandangan warga AS terhadap pusat data AI cenderung menurun dalam beberapa bulan terakhir. 54% warga AS yang disurvei mengatakan pusat data cenderung berampak buruk bagi lingkungan, naik dari 39% pada bulan Januari.
Sebanyak 50% responden berpendapat bahwa pusat data cenderung berdampak buruk terhadap biaya energi rumah tangga, dan 49% menyatakan pusat data cenderung berdampak buruk bagi kualitas hidup masyarakat di sekitarnya.
Hanya 4% warga AS yang beranggapan bahwa pusat data memberikan dampak yang sebagian besar positif di bidang-bidang tersebut. Survei ini dilakukan pada 20 Juli hingga 9 Agustus, melibatkan 10.548 orang dewasa di Amerika Serikat.
Presiden AS Donald Trump bahkan mengatakan ia tidak ingin tinggal di sebelah pusat data meskipun ia mendukung pembangunan infrastruktur tersebut karena diyakini dapat membuat masyarakat lebih sejahtera.
Di saat perusahaan besar yang membangun pusat data seperti Meta, Amazon, dan Microsoft menjanjikan jutaan dolar bagi komunitas dan sekolah di sekitar lokasi pusat data mereka, OpenAI justru bertaruh perubahan nama akan membantu memperbaiki opini publik.
"Kami ingin komunitas yang menjadi tuan rumah infrastruktur tersebut membantu membentuknya dan berbagi peluang yang diciptakannya," ucap juru bicara OpenAI.