Menurut Deon lonjakan permintaan listrik hingga 190 Terawatt-hour berkat proyek elektrifikasi ini bersumber dari berbagai sektor mulai dari ekspor listrik, pusat data (data center), hingga elektrifikasi transportasi, industri, dan rumah tangga.

"Jadi ini adalah memang kebutuhan sebenarnya kalau memang kita mau target permintaan adalah salah satu strateginya untuk mencapai pertumbuhan ekonomi itu adalah industrialisasi, elektrifikasi, dan sebagainya, ya harus didukung dengan ketersediaan pemenuhan permintaan listrik yang cukup tinggi juga," jelas Deon.

Dalam kesempatan yang sama Direktur INDEF Green Transition Initiative (GTI), Imaduddin Abdullah, menjelaskan bahwa kontribusi dari proses elektrifikasi ini akan sangat signifikan untuk menopang target pertumbuhan ekonomi nasional.

Sebab implementasi dari proses elektrifikasi tersebut diproyeksikan dapat memberi kontribusi hingga US$ 160 miliar atau setara Rp 2.867,68 triliun (asumsi kurs Rp 19.923/dolar AS) terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional Indonesia dalam kurun 10 tahun (2025-2035).

"Dampak dari least cost electrification ini memberikan dampak kontribusi sekitar US$ 160 miliar terhadap PDB Indonesia selama 10 tahun ke depan dari 2025 sampai 2035," ujar Imaduddin.