Sementara itu, pada Asta Cita keempat dan kelima, BPOM mengambil peran strategis dalam penguatan sumber daya manusia, pengembangan sains dan teknologi, serta percepatan hilirisasi dan industrialisasi untuk meningkatkan nilai tambah produk dalam negeri.
Adapun dukungan terhadap Asta Cita keenam diwujudkan melalui program Desa Pangan Aman, penguatan usaha lokal, dan pendampingan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) agar mampu berkembang dengan tetap memenuhi standar keamanan dan mutu.
Taruna Ikrar juga menegaskan pentingnya transformasi digital layanan BPOM dalam menciptakan sistem regulasi yang semakin cepat, transparan, terintegrasi, dan berbasis risiko.
Menurutnya, percepatan pelayanan harus berjalan beriringan dengan penguatan pengawasan sebelum dan selama produk beredar, termasuk ketertelusuran produk, pemantauan efek samping, pengawasan digital, serta penindakan terhadap pelanggaran.
Dengan demikian, upaya meningkatkan kemudahan berusaha tetap sejalan dengan tanggung jawab negara untuk melindungi masyarakat dari produk obat dan makanan yang tidak memenuhi persyaratan.
Taruna Ikrar optimistis bahwa sinergi ABG yang semakin kuat dapat menjadi salah satu fondasi penting dalam mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen serta mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.
"Besar harapan kami kolaborasi ABG dapat terus menghasilkan inovasi yang bermanfaat nyata, meningkatkan daya saing produk Indonesia, memperkuat kemandirian nasional, dan menjadi bagian dari upaya bersama mewujudkan Indonesia Emas 2045," pungkas Taruna Ikrar.