NADIKABAR.COM β PT. Telkomsel menerapkan ambang batas minimum penetrasi perangkat 5G minimal sekitar 20 persen di suatu wilayah sebelum memperluas jaringan generasi kelima tersebut.
βAmbang batas kami sekitar 20 persen. Jika sudah mencapai batas minimum itu, kami akan melanjutkan ekspansi 5G,β kata Direktur Utama PT. Telkomsel Nugroho dalam forum Bali Tech Week di Sanur, Denpasar, Senin.
Kebijakan ini menjadi salah satu pertimbangan perusahaan agar investasi jaringan sejalan dengan kesiapan pasar dan potensi penggunaan layanan.
Ia mengatakan pembangunan jaringan membutuhkan perhitungan kelayakan investasi yang ketat, termasuk melalui evaluasi tingkat pengembalian investasi atau internal rate of return (IRR).
Menurut dia, perluasan jaringan 5G tidak cukup hanya mempertimbangkan kebutuhan teknologi, tetapi juga jumlah pelanggan yang sudah memiliki perangkat pendukung.
"Tanpa basis pengguna yang memadai, kapasitas jaringan berisiko tidak dimanfaatkan secara optimal," katanya.
Berdasarkan analisis perusahaan, terdapat sekitar 107 kota yang dinilai layak menjadi sasaran investasi 5G.
Penentuan wilayah tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan kesiapan pasar agar pengembangan jaringan dapat memberikan manfaat nyata bagi pelanggan.
Nugroho menegaskan pendekatan selektif bukan berarti Telkomsel enggan memperluas 5G. Perusahaan tetap berkomitmen mengembangkan teknologi tersebut secara nasional, tetapi pelaksanaannya dilakukan bertahap dengan memperhitungkan efisiensi investasi.
Ia juga menilai kebutuhan pelanggan terhadap kualitas jaringan mulai berubah. Jika sebelumnya pengalaman internet lebih banyak diukur dari kecepatan mengunduh data, kini kemampuan mengunggah data turut menjadi kebutuhan penting.
Aktivitas seperti panggilan melalui WhatsApp dan siaran langsung membutuhkan kapasitas unggah yang memadai.
Menurut Nugroho, jaringan 5G dapat mendukung kebutuhan tersebut secara lebih optimal dibandingkan teknologi sebelumnya.
Kualitas konektivitas juga dinilai semakin penting untuk menunjang pengalaman penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Karena itu, pengembangan 5G dipandang sebagai bagian dari persiapan jaringan untuk mendukung layanan digital yang semakin kompleks.
Meski demikian, Nugroho menekankan keputusan investasi tetap harus didasarkan pada kebutuhan riil dan kesiapan pengguna.
"Pembangunan jaringan tanpa perhitungan yang matang berisiko membuat kapasitas yang tersedia tidak terpakai secara maksimal," kata Nugroho.
Selain pengembangan konektivitas, ia mengisyaratkan Telkomsel tengah menyiapkan inisiatif lain di luar bisnis jaringan.
Namun, Nugroho belum memerinci program tersebut dan mengatakan pengumumannya akan dilakukan dalam waktu dekat.