Ketertarikan Katino untuk menanam tembakau juga tidak terlepas dari kondisi iklim Wonogiri. Selama bertahun-tahun, musim kemarau di wilayah ini identik dengan lahan yang menganggur karena kurangnya pasokan air.
Dalam kondisi tersebut, banyak warga hanya bisa menunggu musim hujan datang. Namun tembakau memiliki karakter yang unik karena tidak membutuhkan banyak air, sehingga membuat lahan tetap produktif dan memberikan nilai ekonomi.
Ketekunan Katino membuahkan hasil. Sejak 2023, kondisi ekonominya berangsur membaik, ditandai dengan peningkatan pendapatan yang memungkinkannya membeli sebidang lahan sawah baru dan terus mengembangkan usaha taninya.
Kini, ia mengelola sekitar 9.000 meter persegi lahan di tiga lokasi, ditambah satu lahan sewa, serta mempekerjakan beberapa buruh tani untuk mendukung pola tanam bergantian pada musim hujan dan musim kemarau.
Pengalaman itu juga dirasakan Purwanto (34), petani lain di Wonogiri yang punya cerita berbeda sebagai petani tembakau. Pola tanam bergantian ternyata bukan sekadar siasat menghadapi cuaca, tetapi juga berdampak pada peningkatan ekonomi keluarganya.
Sempat merantau ke Jakarta dan bekerja di perusahaan swasta, Purwanto memutuskan kembali untuk menemani kedua orangtuanya sekaligus mengolah lahan warisan keluarga. Keputusan itu menjadi awal perjalanannya menekuni dunia pertanian, yang kemudian membawanya mengenal budidaya tembakau.
"Saya pulang ketika musim kemarau. Tetangga-tetangga tanam tembakau. Saya mulai belajar ikut menanam. Awalnya tidak banyak, hanya untuk belajar," kenang Purwanto.
Dari situ, Purwanto kemudian menjalin kemitraan dengan Sampoerna melalui perusahaan pemasoknya. Menurut Purwanto, pendampingan yang diberikan mencakup seluruh tahapan budidaya yang memberikan solusi atas berbagai tantangan di lapangan.
"Kita dapat penyuluhan, bimbingan teknis, dan pendampingan untuk penanamannya. Mulai dari pembibitan, penanaman, bahkan sampai pascapanen pun kita masih didampingi oleh petugas lapangan," ujar Purwanto.
Menurut Purwanto, pendampingan tersebut membuat proses budidaya menjadi lebih terarah. Ia tidak lagi hanya mengandalkan pengalaman turun-temurun, tetapi juga menerapkan berbagai praktik budidaya yang direkomendasikan melalui program kemitraan.