NADIKABAR.COM — Mahasiswa ilmu komputer Jack Zemke tidak kunjung mendapatkan hasil meski telah mengirimkan ratusan lamaran pekerjaan yang sebagian besar diabaikan. Mengingat kelulusannya dari Universitas Tulane tinggal menghitung hari, ia sempat mempertimbangkan kembali tinggal bersama orang tuanya.
Akhirnya, ia mendapat titik terang berkat proyek kelompok yang pernah ia kerjakan mengenai alat pencari berbasis AI. Saat mempromosikannya di sebuah konferensi, seorang karyawan dari perusahaan teknik sipil menghampirinya dan merekrutnya.
Bursa kerja saat ini memang cukup sulit bagi lulusan baru, khususnya di bidang seperti pengembangan software, di mana AI kini mengambil lebih banyak porsi pekerjaan. Bahkan di Amerika Serikat, lulusan filsafat, sejarah seni, dan studi etnis mencatat tingkat penyerapan kerja lebih tinggi dari ilmu komputer.
Seiring berkembangnya bursa kerja bersama AI dan sulitnya menemukan pekerjaan tingkat awal, mahasiswa dan kampus mulai beradaptasi. Perguruan tinggi bereksperimen memperkuat pelatihan penggunaan perangkat AI.
Kampus menyatakan sebagian besar lulusan akhirnya mendapat pekerjaan, walau belakangan perusahaan yang merekrut bukan raksasa teknologi, melainkan bisnis skala lebih kecil yang mencari bantuan untuk memahami cara pemanfaatan AI.
Hal itulah yang dialami Zemke yang menghabiskan waktu setahun di perusahaan teknik tersebut sebelum akhirnya direkrut oleh sebuah startup teknologi AI.