Data terbaru National Student Clearinghouse Research Center menunjukkan pada musim semi tahun ini, pendaftaran program studi ilmu dan informasi komputer anjlok 8,4% di berbagai institusi pendidikan.
Bagi mahasiswa internasional yang banyak mendaftar di program studi ilmu komputer, bursa kerja terbukti sangat menantang. Kesulitannya sebagian disebabkan perubahan kebijakan imigrasi AS, serta pergeseran jenis pekerjaan yang tersedia.
Samir Khuller, kepala departemen ilmu komputer Universitas Northwestern, mengatakan banyak perusahaan berskala lebih kecil yang sedang merekrut tenaga kerja, tidak berpengalaman menangani visa kerja H-1B.
Mahasiswa internasional umumnya butuh visa kerja H-1B untuk bisa tinggal dan bekerja di AS, yang mana mensyaratkan adanya sponsor perusahaan. Program ini menjadi sasaran empuk bagi pemerintahan Trump, yang berupaya menaikkan biaya pembuatan visa ini menjadi lebih dari USD 100.000.
Collins Kibet, lulusan ilmu komputer dari Kenya, mengirim ratusan lamaran dan hanya mendapat beberapa panggilan wawancara, sebagian besar dilakukan bot AI. Lulusan Southern New Hampshire University ini berkisah bahwa pada momen wawancara langka dengan manusia, nada bicara perekrut berubah saat mengetahui harus mensponsori visa kerja H-1B-nya.
"Tiba-tiba semuanya terdiam," ungkap Kibet, yang akhirnya memutuskan mendirikan perusahaan software sendiri karena tidak kunjung menemukan pekerjaan.