NADIKABAR.COM — Mahasiswa ilmu komputer Jack Zemke tidak kunjung mendapatkan hasil meski telah mengirimkan ratusan lamaran pekerjaan yang sebagian besar diabaikan. Mengingat kelulusannya dari Universitas Tulane tinggal menghitung hari, ia sempat mempertimbangkan kembali tinggal bersama orang tuanya.
Akhirnya, ia mendapat titik terang berkat proyek kelompok yang pernah ia kerjakan mengenai alat pencari berbasis AI. Saat mempromosikannya di sebuah konferensi, seorang karyawan dari perusahaan teknik sipil menghampirinya dan merekrutnya.
Bursa kerja saat ini memang cukup sulit bagi lulusan baru, khususnya di bidang seperti pengembangan software, di mana AI kini mengambil lebih banyak porsi pekerjaan. Bahkan di Amerika Serikat, lulusan filsafat, sejarah seni, dan studi etnis mencatat tingkat penyerapan kerja lebih tinggi dari ilmu komputer.
Seiring berkembangnya bursa kerja bersama AI dan sulitnya menemukan pekerjaan tingkat awal, mahasiswa dan kampus mulai beradaptasi. Perguruan tinggi bereksperimen memperkuat pelatihan penggunaan perangkat AI.
Kampus menyatakan sebagian besar lulusan akhirnya mendapat pekerjaan, walau belakangan perusahaan yang merekrut bukan raksasa teknologi, melainkan bisnis skala lebih kecil yang mencari bantuan untuk memahami cara pemanfaatan AI.
Hal itulah yang dialami Zemke yang menghabiskan waktu setahun di perusahaan teknik tersebut sebelum akhirnya direkrut oleh sebuah startup teknologi AI.
Tingginya pengangguran yang sekitar 7,1% untuk lulusan baru ilmu komputer dan teknik komputer, menurut analisis Associated Press, mencerminkan besarnya jumlah mahasiswa yang mendaftar selama masa booming coding.
Perekrutan melonjak selama pandemi ketika semuanya beralih ke ranah digital. Lowongan pengembangan software di situs pencari kerja Indeed mencapai puncak awal tahun 2022.
Namun kini, raksasa teknologi seperti Microsoft dan Google beralih ke AI untuk mengerjakan porsi penulisan kode yang lebih besar. Perusahaan besar seperti Amazon memangkas pegawai seiring meroketnya pengeluaran untuk AI. Pekerjaan di bidang pengembangan software yang diiklankan pun jauh lebih sedikit.
Tracy Camp, CEO Computing Research Association, menyebut dampak AI terhadap pekerja muda sangat mengkhawatirkan sehingga mereka menghubungi para pemimpin industri, serta mendesak agar mau berinvestasi pada pekerja entry level.
"Jika mereka tidak mengubah cara perekrutan saat ini, mereka takkan memiliki karyawan tingkat menengah dalam beberapa tahun ke depan," kata Camp yang dikutip NadiKabar dari Associated Press.
Mahasiswa pun mulai menyadarinya. Setelah satu dekade jumlah lulusan ilmu dan teknik komputer meningkat tiga kali lipat, menjadi sekitar 362.000 orang di 2024, angka pendaftaran mulai turun sejak tahun lalu.
Data terbaru National Student Clearinghouse Research Center menunjukkan pada musim semi tahun ini, pendaftaran program studi ilmu dan informasi komputer anjlok 8,4% di berbagai institusi pendidikan.
Bagi mahasiswa internasional yang banyak mendaftar di program studi ilmu komputer, bursa kerja terbukti sangat menantang. Kesulitannya sebagian disebabkan perubahan kebijakan imigrasi AS, serta pergeseran jenis pekerjaan yang tersedia.
Samir Khuller, kepala departemen ilmu komputer Universitas Northwestern, mengatakan banyak perusahaan berskala lebih kecil yang sedang merekrut tenaga kerja, tidak berpengalaman menangani visa kerja H-1B.
Mahasiswa internasional umumnya butuh visa kerja H-1B untuk bisa tinggal dan bekerja di AS, yang mana mensyaratkan adanya sponsor perusahaan. Program ini menjadi sasaran empuk bagi pemerintahan Trump, yang berupaya menaikkan biaya pembuatan visa ini menjadi lebih dari USD 100.000.
Collins Kibet, lulusan ilmu komputer dari Kenya, mengirim ratusan lamaran dan hanya mendapat beberapa panggilan wawancara, sebagian besar dilakukan bot AI. Lulusan Southern New Hampshire University ini berkisah bahwa pada momen wawancara langka dengan manusia, nada bicara perekrut berubah saat mengetahui harus mensponsori visa kerja H-1B-nya.
"Tiba-tiba semuanya terdiam," ungkap Kibet, yang akhirnya memutuskan mendirikan perusahaan software sendiri karena tidak kunjung menemukan pekerjaan.