NADIKABAR.COM — Arab Saudi menginvestasikan dana dalam besar untuk militernya. Kerajaan ini merupakan pembelanja senjata terbesar kedelapan dunia, tapi serangan Houthi ternyata sangat sulit dihentikan. Seperti diberitakan, rudal Houthi menghantam bandara di Riyadh dan menimbulkan korban jiwa.

"Sistem pertahanan udara Saudi memang mampu mencegat beberapa serangan rudal dan drone Houthi, tapi wilayah Arab Saudi begitu luas sehingga mustahil bagi mereka terus-menerus bisa mempertahankan diri dari setiap serangan," ujar Thomas Juneau, analis keamanan di Universitas Ottawa.

Analis lain menyoroti bahwa sistem pertahanan udara Israel yang dibanggakan sekalipun sempat gagal menghentikan rudal balistik yang nyaris menghantam bandara Ben Gurion tahun lalu.

Serangan balasan terhadap Houthi dan upaya preemptif untuk melumpuhkan kekuatan serangnya juga tak mudah. Pengeboman yang dilakukan Amerika Serikat di 2025 menunjukkan sulitnya menghancurkan kemampuan milisi tersebut, yang meningkat pesat beberapa tahun terakhir, sebagian berkat bantuan dan investasi dari Iran.

Dikutip NadiKabar dari Associated Press, Arab Saudi pun menggelar penyelidikan untuk mencari tahu penyebab sistem pertahanan udaranya gagal mencegat rentetan rudal dan drone Houthi.