Selain untuk berjaga-jaga jika suatu hari nanti Selat Malaka mengalami nasib serupa dengan Selat Hormuz, proyek ambisius ini juga ditujukan untuk memangkas biaya logistik perdagangan internasional Thailand.
"Koridor tersebut dapat memangkas biaya logistik hingga hampir 30% dan mengurangi waktu transit hingga 14 hari untuk kargo yang melakukan perjalanan antara China selatan dan pelabuhan di Samudra Hindia yang melayani Asia Selatan dan Timur Tengah," tulis presentasi pemerintah yang dilihat oleh Reuters seperti dikutip dari The Nation.
Namun dikatakan yang menjadi inti dari proyek Rp 533 triliun ini adalah jalur kereta api standar sepanjang 90 kilometer yang menghubungkan dua pelabuhan laut dalam, dengan kapasitas angkut hingga 20 juta TEU (Twenty-foot Equivalent Unit) per tahun.
Kemudian jaringan ini akan diperkuat lagi oleh jalur kereta api lainnya yang akan menghubungkan koridor tersebut ke jaringan kereta api nasional Thailand yang sudah ada. Menjadi jalur logistik baru yang selanjutnya juga didukung oleh jalan raya multi-jalur dan jalan lokal.