NADIKABAR.COM — Kecerdasan buatan (AI), sensor, dan sistem otomatis semakin banyak digunakan dalam industri durian Thailand untuk meningkatkan kualitas buah dan ketelusuran untuk ekspornya yang sebagian besar ditujukan ke China.

Di Chanthaburi, provinsi penghasil durian terbesar di Thailand, petani Nuttawoot Chanrueng telah melengkapi kebun tradisional keluarganya dengan kamera, sensor, dan sistem data, yang sebagian besar berasal dari China.

Setiap pohon kini memiliki catatan digital tentang kondisi pertumbuhannya, sementara teknologi Internet of Things (IoT), dan AI membantu mendeteksi masalah lebih awal dan meningkatkan kemampuan pelacakan.

Teknologi ini memungkinkan Nuttawoot, yang merupakan presiden Chanrueng Community Enterprise, untuk mengubah metode tradisional orang tuanya dalam mengelola kebun melalui pengalaman dan pengamatan menjadi data numerik yang dapat dipantau dan dianalisis.

"Kami mengambil kearifan orang tua kami, kami tidak meninggalkannya, dan mengadaptasi metode mereka agar sesuai dengan kebutuhan kami," katanya saat diwawancara stasiun televisi CGTN, dikutip dari VN Express, Senin (5/10/2026).

"Kami mengamati bagaimana mereka mengelola berbagai hal dan mengubahnya menjadi data numerik yang jelas yang semuanya dapat ditampilkan dalam grafik seperti ini," imbuhnya.

Dia mengatakan bahwa teknologi China menarik bagi petani karena terjangkau, mudah diakses, dan mudah digunakan, serta menyediakan solusi siap pakai yang secara bertahap dapat diintegrasikan dengan AI.

Teknologi ini menjadi semakin penting karena Thailand berupaya melindungi posisinya di pasar durian China yang luas. China adalah pasar durian terbesar Thailand. Thailand mengekspor durian senilai hampir USD3,79 miliar ke China pada paruh pertama 2026, yang mencakup 81% dari impor durian China, mengutip data bea cukai China.

Kloz Hirunburana, ketua Asosiasi Komersial untuk Keberlanjutan Pertanian Thailand, mengatakan bahwa China sangat menekankan pentingnya mengetahui asal-usul makanan, cara penanamannya, dan sejarahnya, sehingga teknologi menjadi penting bagi para petani yang ingin memenuhi standar pasar.

Seiring meningkatnya persaingan dan pengetatan persyaratan kualitas, Thailand beralih ke AI dan teknologi lainnya untuk meningkatkan konsistensi dan ketelusuran ekspor duriannya.

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, Riset, dan Inovasi Thailand menyebutkan, perusahaan swasta telah mulai menggunakan AI untuk menilai kematangan durian. Para peneliti juga sedang mengembangkan sistem yang dapat menentukan apakah durian sudah matang tanpa perlu membelahnya, sehingga mengurangi ketergantungan pada metode tradisional untuk menilai kematangan.

Dorongan terhadap teknologi juga meluas ke sektor pertanian. Inisiatif Durian Digital Thailand telah membantu lebih dari 10.000 petani mengadopsi teknologi digital. Program ini mencakup catatan budidaya digital, manajemen air cerdas, dan sistem yang mendukung ketelusuran produk.