"Industrialisasi tidak akan berjalan apabila dunia usaha masih menghadapi biaya ekonomi tinggi. Sumbernya jelas: regulasi yang berlebihan, perizinan yang panjang, ketidakpastian kebijakan, tumpang tindih kewenangan, hingga birokrasi yang belum efisien," ujar Didik.
Karena itu untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 7-8%, Didik menilai kebijakan ekonomi tidak dapat berjalan seperti biasanya alias business as usual.
Industrialisasi harus kembali ditempatkan sebagai strategi utama melalui investasi produktif, ekspor manufaktur, peningkatan nilai tambah, penguasaan teknologi, dan keterhubungan dengan rantai produksi global.
"Di tengah fragmentasi perdagangan dunia, Indonesia perlu memperkuat orientasi keluar (outward looking) dengan memanfaatkan pasar global, investasi asing, dan ekspor. Negara-negara yang berhasil memperkuat industrinya menunjukkan bahwa keterbukaan terhadap investasi dan rantai produksi global dapat menjadi jalan untuk meningkatkan teknologi, produktivitas, dan daya saing," sambungnya.
Berdasarkan temuan dalam Buku Putih 2026, Kadin memetakan hambatan dunia usaha ke dalam tiga kelompok besar.