Internet membuat anak bisa menemukan berbagai jenis informasi hanya dengan beberapa kali sentuhan. Masalahnya, tidak semua informasi tersebut cocok untuk mereka.

Pornografi menjadi salah satu risiko yang perlu diperhatikan. UNICEF menyebut paparan pornografi pada usia dini dapat berkaitan dengan berbagai dampak negatif, termasuk pandangan yang keliru mengenai hubungan, objektifikasi dan kekerasan seksual.

Karena itu, orang tua dapat mengaktifkan penyaringan konten dan pencarian aman. Namun, jangan berhenti pada pengaturan teknologi.

Anak juga perlu diberi pemahaman bahwa jika mereka tanpa sengaja melihat gambar atau video yang membuat tidak nyaman, mereka dapat langsung menutupnya dan bercerita kepada orang tua tanpa takut dimarahi.

Risiko lain yang sering muncul di ruang digital adalah cyberbullying. Bentuknya dapat berupa ejekan, penghinaan, penyebaran foto atau video yang mempermalukan, ancaman, hingga pengucilan dari kelompok pertemanan daring.

Masalahnya, perundungan di internet dapat terus mengikuti anak bahkan ketika ia sudah berada di rumah.

Orang tua perlu memperhatikan perubahan perilaku anak. Anak yang tiba-tiba enggan menggunakan HP, terlihat cemas setelah menerima pesan, menjadi lebih tertutup, atau tidak ingin pergi ke sekolah bisa saja sedang menghadapi masalah di dunia digital.

Jika menemukan kasus cyberbullying, anak perlu didorong untuk menyimpan bukti, memblokir akun pelaku dan menggunakan fitur pelaporan yang tersedia di platform. UNICEF juga menyarankan anak membicarakan pengalaman tersebut dengan orang dewasa yang dipercaya.

AI kini bukan lagi teknologi yang jauh dari kehidupan anak. Anak dapat menemukan chatbot AI, fitur pembuatan gambar, penyunting foto dan berbagai aplikasi berbasis AI dengan mudah.

Teknologi tersebut memang bisa membantu pembelajaran dan kreativitas, tetapi tetap memiliki risiko jika digunakan tanpa pemahaman yang cukup.

Salah satu yang perlu diperhatikan adalah deepfake. Foto seseorang dapat dimanipulasi menggunakan AI sehingga terlihat seperti sesuatu yang sebenarnya tidak pernah terjadi.

UNICEF pada 2026 memperingatkan bahwa AI semakin digunakan untuk membuat gambar atau video seksual palsu terhadap anak. Dalam studi yang melibatkan 11 negara, sedikitnya 1,2 juta anak dilaporkan mengalami manipulasi gambar mereka menjadi deepfake seksual dalam periode satu tahun.

Karena itu, orang tua perlu mengajarkan anak agar tidak sembarangan mengunggah foto pribadi, terutama foto yang dapat disalahgunakan. Anak juga perlu memahami bahwa foto yang sudah beredar di internet tidak selalu mudah ditarik kembali.

6. Jangan hanya mengandalkan aplikasi pengawasan

Menggunakan fitur pengawasan memang penting, tetapi teknologi bukan satu-satunya solusi.