Jika aturan dibuat terlalu ketat tanpa komunikasi, anak justru bisa mencari cara untuk menghindarinya atau menggunakan perangkat lain secara diam-diam.

Karena itu, orang tua dapat membuat kesepakatan bersama. Misalnya, menentukan waktu penggunaan HP, aplikasi yang boleh digunakan, aturan saat bermain gim, hingga apa yang harus dilakukan jika menemukan konten atau menerima pesan yang membuat anak merasa tidak aman.

Dengan begitu, anak tidak hanya menjadi pengguna yang diawasi, tetapi juga belajar mengambil keputusan ketika menghadapi situasi berisiko.

7. Ajarkan anak untuk menjaga privasi

Orang tua juga perlu mengajarkan anak untuk tidak membagikan informasi pribadi kepada sembarang orang di internet.

Alamat rumah, nomor telepon, lokasi sekolah, kata sandi, foto dokumen, hingga lokasi secara waktu nyata sebaiknya tidak dibagikan secara sembarangan.

UNICEF mengingatkan bahwa aktivitas seperti klik, unggahan, komentar dan berbagi informasi dapat meninggalkan jejak digital yang sulit dihapus. Orang tua juga disarankan memeriksa pengaturan privasi perangkat dan aplikasi yang digunakan anak.

8. Buat aturan penggunaan HP yang konsisten

Aturan penggunaan HP sebaiknya berlaku secara konsisten dan disesuaikan dengan usia anak.

Misalnya, tidak menggunakan HP ketika sedang makan bersama, sebelum tidur, atau ketika sedang belajar. Orang tua juga dapat menetapkan waktu tertentu untuk bermain gim dan membuka media sosial.

Yang tidak kalah penting, orang tua juga perlu memberikan contoh. Akan sulit meminta anak mengurangi penggunaan HP jika orang tua sendiri terus menggunakan perangkat sepanjang waktu.

Pada akhirnya, tujuan mengontrol HP anak bukan membuat mereka sepenuhnya terpisah dari internet. Dunia digital sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan memiliki banyak manfaat untuk pendidikan, komunikasi serta kreativitas.

Yang lebih penting adalah memastikan anak memiliki bekal untuk menggunakannya dengan aman.

Melalui kombinasi antara parental control, pembatasan waktu, pengaturan privasi, pendampingan dan komunikasi terbuka, orang tua dapat membantu anak menghadapi internet tanpa harus merasa bahwa setiap aktivitas digital mereka selalu diawasi.

Sebab, di era ketika konten berbahaya bisa muncul hanya dengan satu kali klik dan teknologi AI semakin mudah digunakan, pendampingan orang tua tetap menjadi salah satu lapisan perlindungan terpenting bagi anak di ruang digital.