Di sisi lain, kekhawatiran mengenai potensi risiko AI semakin meningkat. Sejumlah peneliti dan anggota parlemen AS menyoroti kemungkinan teknologi AI digunakan untuk serangan siber, senjata, maupun ancaman lain yang lebih serius.
Pembentukan Super Intelligence Force menunjukkan pemerintahan Trump mulai memberikan ruang lebih besar bagi pemerintah untuk mengidentifikasi risiko dan menentukan respons terhadap perkembangan AI, meski pendekatan terhadap regulasi tetap menjadi perdebatan.
Dalam tugasnya, Clayton akan dibantu tiga wakil ketua, yakni Emil Michael, Scott Kupor, dan Ketua Federal Trade Commission (FTC) Andrew Ferguson. Sejumlah pejabat tinggi pemerintahan Trump juga masuk dalam tim, termasuk Wakil Presiden JD Vance, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, Menteri Keuangan Scott Bessent, serta Kepala Staf Gedung Putih Susie Wiles.
Penasihat eksternal yang disebut dalam laporan antara lain mantan penasihat AI Gedung Putih David Sacks dan mantan Menteri Luar Negeri AS Condoleezza Rice. Tim tersebut dijadwalkan menyampaikan hasil kajiannya dalam waktu 120 hari. Masa kerja itu juga dapat diperpanjang jika diperlukan atau fungsi tim nantinya dialihkan kepada lembaga pemerintah tertentu.