Menjelang hari pemilihan, Lula's Army telah berkembang hingga mencapai hampir 11 juta anggota. Lula pun dipilih kembali menjadi presiden.

Semenjak itu, cara Andre Janones serta Lula's Army menaklukkan algoritma medsos dan serangan buzzer, menjadi viral dan dibahas di mana-mana.

Janones adalah seorang pengacara sekaligus anggota kongres yang tumbuh besar dalam keluarga kelas pekerja di Minas Gerais. Ia mulai dikenal luas berkat komentar-komentarnya di media sosial selama aksi mogok pengemudi truk di Brasil pada tahun 2018 karena kenaikan harga BBM.

Pada tahun yang sama, ia terpilih menjadi anggota Kongres. Lalu pada tahun 2022, ia memutuskan untuk tidak melanjutkan pencalonan dirinya sebagai presiden demi mendukung Lula, serta bergabung dalam kampanye putaran kedua Lula.

"Saat itu, ia menjadi sangat dikenal karena menggunakan taktik yang mirip dengan yang diterapkan oleh kubu Bolsonarisme, meskipun ia berada di spektrum politik kiri," ujar Viktor Chagas, seorang profesor di Universitas Federal Fluminense yang mendalami politik digital dan kampanye daring.

Janones menciptakan istilah 'Janonisme kultural' untuk menggambarkan pendekatannya, yang mengandalkan pesan-pesan mendesak, meme, dan seruan bagi para pendukung untuk bertindak. Kemudian, seperti yang dijelaskan oleh Chagas, sesekali menggunakan kampanye negatif dan 'konten yang asal-usulnya dipertanyakan'.

Namun, menurut Chagas, skala 'Lula's Army pada tahun 2026 merupakan sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.