"Nggak tahu juga ya kenapa sekarang naik, mungkin ya memang ada pengaruhnya dari Amerika ikut perang kan. Kan di sini semua kedelai Amerika. Ada juga dari China cuma saya nggak pakai, soalnya aci-nya kurang. Kedelainya sebenarnya bagus, besar-besar, tapi aci-nya kurang, kalau buat tahu kurang cocok," ucap Sudiarto lagi.

Padahal selain ongkos bahan baku kedelai, perajin masih harus memperhitungkan besaran biaya operasional lainnya seperti pembelian kayu bakar, tarif listrik, dan upah tenaga kerja. Kondisi ini membuat margin keuntungan dari penjualan tahu saat ini bahkan membuat aktivitas produksi terasa seperti 'kerja bakti'.

"Kita seperti kerja bakti, seperti itu ya. Libur juga tidak mungkin. Libur ada kesepakatan bareng sama teman-teman pedagang tahu. Kita tetap produksi walaupun keuntungannya minim istilahnya," tuturnya.

Secara rinci Sudiarto mengatakan modal produksi tahu per kuintal saat ini mencapai Rp 1,5 juta hingga Rp 1,55 juta. Biaya itu sudah mencakup harga kedelai sekitar Rp 11.300-11.500 per kilogram, ongkos tenaga kerja, kayu bakar sekitar hingga per hari, serta tagihan listrik.

Sementara untuk satu kuintal kedelai ini, ia harus bisa memproduksikan sekitar 50 papan tahun yang dijual ke pasar atau para pedagang langganannya seharga Rp 33.000. Sehingga hasil penjualan tahu dari produksi satu kuintal kedelai rata-rata dapat memberikan pendapatan kotor sekitar Rp 1,65 juta.