"Buat kacang Rp 11.500 lah, terus buat tenaga Rp 200.000, buat kayu Rp 100.000 per kuintal. Emang kita nggak mikirin listrik juga ya kan? Ya kira-kira Rp 1.500.000 sampai Rp 1.550.000 itu untuk pengeluaran. Pokoknya kalau diuangkan Rp 1.650.000," paparnya.

Alhasil untuk mengakalai kenaikan harga bahan baku kedelai yang terus terjadi dalam beberapa pekan terakhir ini, Sudiarto harus membuat ukuran tahu menjadi lebih kecil agar pabriknya itu tetap bisa memproduksi sekitar 50 papan tahu per kuintal kedelai.

Sebab dengan selisih pendapatan yang sangat tipis tersebut, ia berada pada posisi yang sangat rentan. Sedikit saja kesalahan dalam proses pencetakan atau kegagalan pengolahan adonan dapat menyebabkan kerugian hingga ratusan ribu rupiah dalam sehari.

"Itu kalau kita nggak ceroboh ya. Artinya nyetaknya, yang nyetak nggak ceroboh. Kalau nyetaknya ceroboh ya nggak jadi, kan kita malah rugi. Kerugiannya bisa Rp 100.000 - 150.000 lah," ujar Sudiarto.