NADIKABAR.COM — Gelaran bursa kerja atau job fair masih menjadi magnet utama bagi masyarakat yang tengah berburu pekerjaan. Di balik keramaian pelamar dari berbagai kalangan, terselip cerita perjuangan para pencari kerja senior yang harus berjuang ekstra di tengah ketatnya persaingan.
Sebagai contoh Noven (39) asal Kramat Jati, Jakarta Timur. Pria yang telah mencari kerja sejak 2022 lalu turut mendatangi job fair di Gedung SMESCO, Jakarta Selatan, demi mengadu nasib dan mendapatkan pekerjaan formal.
Noven bercerita sebelum ikut berjuang di bursa kerja, ia merupakan seorang pemilik usaha fotokopi. Namun, imbas pandemi COVID-19 melanda dan banyak sekolah hingga perkantoran mulai menerapkan digitalisasi, usahanya terpaksa gulung tikar.
"Wirausaha saya sebelumnya, usaha fotokopi. Cuman gara-gara Covid-19 ya kita mundur," ucapnya saat ditemui di lokasi job fair, Jumat (23/10/2026).
Situasi ini memaksa Noven beralih menjadi pengemudi ojek online (ojol) sembari terus mencari lowongan kerja formal. Mulai dari mengirimkan CV secara daring melalui berbagai portal lowongan hingga mengikuti pelatihan kerja sudah dilakukan sejak empat tahun terakhir.
"Paling seminggu sekali saya kirim CV ke mana. Saya kan sambil jadi driver online kan. Jadinya yang sambil cari kerja juga," kata Noven.
Noval mengaku lendala terbesar yang kerap dihadapi bukan pada aspek keterampilan atau keahlian mengingat dirinya sudah mengikuti berbagai pelatihan di bidang IT dan jaringan komputer hingga kini sudah dikuasainya, melainkan faktor batasan usia yang tercantum dalam syarat lowongan pekerjaan.
"Kendala umur sih saya, jadi susah masuk ke syarat perusahaan," ungkap Noven.
Padahal, pemerintah melalui Kementerian Ketenagakerjaan sebelumnya telah mengimbau agar perusahaan tidak lagi memberlakukan diskriminasi batas usia dalam rekrutmen karyawan. Namun pada praktiknya, Noven menyebutkan bahwa aturan batasan usia masih sering ditemui langsung pada persyaratan lowongan kerja yang disebar perusahaan.
Melalui ajang job fair ini, Noven berharap pemerintah dapat menghadirkan program pelatihan kerja yang tidak sekadar memberi keterampilan, tetapi juga memiliki jalur penempatan kerja yang jelas dan bebas dari hambatan batas usia.
"Harapannya ya itu, kalau ada dari pemerintah ya pelatihan yang bisa langsung nyalurin kerja, match-match-nya itu benar-benar pas gitu, dan enggak terbatas akan umur, hanya skill yang dinilai, kayak di luar negeri lah gitu kalau bisa," pungkasnya.