"Kemudian India minus 4,4% dan debt-nya 83,10%. Jepang deficit-nya minus 0,6% cuman hutangnya 248,7%, dan negara tetangga kita Singapura dia budget positif 1,9% tapi debt-nya di 171,3%" sambung Airlangga.

Atas dasar perbandingan inilah Airlangga kemudian menyayangkan sorotan berlebihan dari sejumlah lembaga pemeringkat internasional terhadap postur APBN Indonesia, padahal negara-negara lain diberikan kelonggaran yang jauh lebih besar.

"Nah pertanyaannya kenapa ada kelompok rating agency yang heboh dan mematok Indonesia di angka-angka yang sebetulnya dibandingkan negara-negara yang tadi saya sebut makroprudensial kita relatif konservatif. Nah ini tentunya kan pertanyaannya kalau yang lain boleh kok Indonesia nggak boleh?" tegasnya.

Di luar itu, Airlangga memaparkan saat ini ekonomi Indonesia masih mampu tumbuh di angka 5,05%. Angka berada di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi global yang diproyeksikan sekitar 3% oleh berbagai lembaga internasional.