"Pembakaran gas belerang inilah yang menghasilkan nyala api berwarna biru elektrik, dengan suhu api dapat mencapai sekitar 600 derajat Celsius," ujarnya.

Fenomena tersebut lebih mudah diamati pada malam hari karena cahaya biru dari api sangat redup dibandingkan cahaya Matahari. Di Papandayan, blue fire pada area fumarol aktif (lubang tempat gas vulkanik keluar ke atmosfer), antara lain Blok Mas dan kawasan Golden Sunrise, dapat terlihat ketika kondisi benar-benar gelap, terutama sekitar pukul 02.00-05.00 WIB.

Sonni menambahkan, keberadaan blue fire di Papandayan sebenarnya bukan fenomena baru. Fenomena tersebut telah berlangsung sejak sekitar 2002, setelah erupsi pada November tahun tersebut membuka sejumlah jalur fumarol dan rekahan baru di kawasan Kawah Mas, Kawah Baru, dan Nangklak.

"Setelah erupsi 2002, banyak rekahan baru terbuka. Gas yang sebelumnya menyebar kemudian menjadi lebih terpusat pada celah-celah sempit dengan tekanan yang lebih tinggi. Ketika bercampur dengan udara, gas tersebut dapat terbakar dan menghasilkan blue fire," katanya.