Dalam beberapa tahun terakhir, aktivitas vulkanik Papandayan juga disebut mengalami perubahan. Berdasarkan catatan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), pada periode 2022-2026 terdapat peningkatan fluks gas SO₂ yang disertai kenaikan aktivitas gempa vulkanik dangkal. Kondisi tersebut berkaitan dengan peningkatan suhu fumarol yang sebelumnya sekitar 150 derajat Celsius menjadi 300-400 derajat Celsius.

"Pada suhu tersebut, gas H₂S dapat terbakar secara spontan tanpa perlu disulut, sehingga kemunculan api menjadi lebih sering terlihat," jelasnya.

Ia mengingatkan masyarakat agar tidak mendekati lokasi blue fire. Gas vulkanik seperti SO₂ dapat berbahaya bagi pernapasan. Selain itu, tanah di sekitar fumarol juga dapat rapuh.

"Jika melakukan pengamatan pada malam hari, keselamatan harus menjadi prioritas. Masker kain biasa tidak cukup untuk menghadapi paparan gas vulkanik. Jangan mendekati lubang fumarol karena selain gasnya beracun, struktur tanah di sekitarnya juga dapat rapuh," pungkasnya.