NADIKABAR.COM — Pengembangan kecerdasan buatan (AI) di Indonesia membutuhkan infrastruktur telekomunikasi yang kuat. Namun, besarnya investasi jaringan dan belum pastinya tingkat pengembalian modal menjadi tantangan bagi operator dalam mengembangkan teknologi generasi berikutnya.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengatakan jaringan telekomunikasi merupakan fondasi utama ekosistem AI. Sebab, pertukaran data, pengiriman informasi, hingga pengumpulan data untuk kebutuhan komputasi cloud bergantung pada konektivitas yang andal.

"Tidak ada pertukaran data tanpa jaringan telekomunikasi. Tidak ada transfer data yang terjadi. Tidak ada data yang bisa dikumpulkan oleh cloud kalau jaringan telekomunikasi tidak bekerja dengan baik," ujar Nezar dalam sambutannya di acara Lintas Teknologi Solutions Day 2026 di Jakarta seperti dikutip NadiKabar, Rabu (4/11/2026).

Disampaikannya bahwa jaringan telekomunikasi merupakan infrastruktur dasar dalam rantai pasok AI, sejajar dengan kebutuhan listrik, energi, dan air. Oleh karena itu, peningkatan kualitas konektivitas perlu dilakukan agar pemanfaatan AI dapat menjangkau lebih banyak masyarakat dan sektor industri.

Saat ini, cakupan jaringan 4G di Indonesia telah menjangkau hampir 99% wilayah permukiman. Sementara penetrasi internet mendekati 81%. Namun, penetrasi fixed broadband baru mencapai sekitar 22%.

Pemerintah menargetkan peningkatan kecepatan internet hingga 100 Mbps dengan biaya layanan yang lebih terjangkau. Nezar menyebut tarif fixed broadband di Indonesia saat ini rata-rata mencapai Rp 300 ribu per bulan, lebih mahal dibandingkan India yang berkisar US$ 5-10.

"Targetnya adalah 100 Mbps dengan biaya internet yang lebih murah sehingga penetrasi ke rumah tangga semakin masif. Dengan demikian, penyebaran teknologi bisa berlangsung lebih cepat," tuturnya.

Selain memperluas jaringan broadband, pemerintah juga mendorong pengembangan teknologi 5G. Teknologi ini dinilai dapat mendukung kebutuhan AI karena memiliki latensi lebih rendah sehingga proses komputasi dan pengambilan keputusan dapat berlangsung lebih cepat.

"Kalau kita berbicara tentang AI, teknologi yang paling tepat adalah 5G karena memiliki latensi lebih rendah untuk membantu komputasi dan pengambilan keputusan yang lebih cepat," kata Nezar.

Penguatan infrastruktur tersebut dinilai penting karena Indonesia memiliki potensi ekonomi digital yang besar. Nezar memperkirakan nilai ekonomi digital Indonesia dapat mencapai USD 366 miliar pada 2030, dari total potensi pasar ASEAN sebesar USD 1 triliun.

Wamenkomdigi berharap kolaborasi pemerintah dan industri telekomunikasi dapat mempercepat pengembangan infrastruktur sekaligus mendorong adopsi AI di berbagai sektor.

"Kita berkolaborasi bersama, pemerintah mencoba menyiapkan perangkat-perangkat regulasi yang bisa membantu industri telekomunikasi sekaligus mendorong adopsi artificial intelligence dengan lebih baik di berbagai sektor," ungkapnya.

Persoalan kesiapan infrastruktur dan regulasi AI juga menjadi pembahasan dalam Lintas Teknologi Solutions Day 2026 yang diselenggarakan PT Lintas Teknologi Indonesia di Royale Jakarta Golf Club, Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Forum bertema "AI Is Ready. Are You Part of It?" tersebut mempertemukan pemerintah, operator telekomunikasi, perusahaan teknologi, dan pelaku industri digital untuk membahas kesiapan Indonesia dalam mengembangkan serta memanfaatkan AI.

President Director PT Lintas Teknologi Indonesia, Muhamad Paisol, mengatakan pengembangan AI tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan teknologi. Diperlukan keselarasan antara kebijakan, infrastruktur digital, kebutuhan industri, dan kemampuan talenta.

"Sebagai system integrator, Lintas Teknologi Indonesia (LTI) mengambil peran untuk mengorkestrasi berbagai kapabilitas teknologi dan menghubungkannya dengan kebutuhan industri. Bagi kami, teknologi harus lebih dari sekadar inovasi; teknologi perlu diintegrasikan menjadi solusi yang relevan, dapat diterapkan, dan menghasilkan dampak nyata bagi pelanggan maupun masyarakat," kata Paisol.

Dalam forum tersebut, Lintas Teknologi juga menandatangani dua kerja sama dengan perusahaan teknologi asal Hong Kong, yakni Ambit Geospatial Solution dan VoteeAI.

Kerja sama dengan Ambit Geospatial Solution diarahkan untuk menjajaki pengembangan infrastruktur AI yang aman, penerapan geospatial AI untuk perencanaan kota pintar atau smart city, serta pengembangan talenta digital lokal.

Sementara itu, kolaborasi dengan VoteeAI berfokus pada pengembangan talenta dan ekosistem inovasi AI melalui edukasi komunitas, demonstrasi produk, penguatan kapabilitas internal, serta penjajakan penerapan AI di sektor telekomunikasi.

Kedua kerja sama tersebut menjadi bagian dari upaya Lintas Teknologi memperluas kolaborasi dengan mitra teknologi untuk mendukung pengembangan ekosistem AI di Indonesia.