Adapun tiga set lainnya akan didatangkan secara bertahap. Pengadaan armada tersebut turut didukung fasilitas pinjaman berjangka dari Bank OCBC NISP dengan plafon Rp75 miliar dan tenor 60 bulan. Perjanjian fasilitas pinjaman itu ditandatangani pada 14 September 2026.
PTBA melakukan eksplorasi di tiga wilayah Izin Usaha Pertambangan (IUP) sepanjang kuartal III 2026. Kegiatan tersebut mencakup 113 titik pengeboran dengan total kedalaman 23.420 meter.
Eksplorasi ini dilakukan untuk memverifikasi sumber daya dan cadangan batu bara sekaligus memperbarui model geologi perseroan. Estimasi biaya yang disiapkan mencapai Rp42,86 miliar.
Rinciannya, 76 titik pengeboran berada di kompleks produksi utama Tanjung Enim dengan biaya Rp33,04 miliar. Kemudian 17 titik berada di Ombilin dengan biaya Rp6,86 miliar dan 20 titik lainnya di Peranap dengan biaya Rp2,96 miliar.
Kegiatan tersebut dilakukan di tengah total cadangan batu bara PTBA yang mencapai 1.504 juta ton (Mt) dan sumber daya sebesar 3.096 Mt. Karena itu, eksplorasi kali ini lebih diarahkan untuk mempertahankan dan mengoptimalkan basis tambang yang sudah ada.
Meski demikian, Peranap menjadi salah satu wilayah yang disiapkan untuk pengembangan lebih lanjut. Wilayah tersebut memiliki cadangan sekitar 279 Mt dan saat ini memasuki tahap pre-production drilling untuk persiapan tambang baru.
Sementara itu, Ombilin memiliki sumber daya sekitar 102 Mt, tetapi belum memiliki cadangan yang tercatat. Wilayah ini masih memiliki peluang untuk meningkatkan sumber daya menjadi cadangan. Namun, perkembangan kedua wilayah tersebut masih bergantung pada hasil peningkatan cadangan serta keputusan pengembangan selanjutnya.
BUAH menetapkan pembagian dividen tunai interim dari laba bersih hingga 30 Juni 2026. Dividen ditetapkan sebesar Rp10 per saham dengan total nilai Rp20 miliar.
Pada semester I 2026, BUAH membukukan laba bersih yang diatribusikan kepada entitas induk sebesar Rp21,80 miliar. Angka tersebut meningkat 0,63% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.