Zulhas mengatakan melalui teknologi waste to energy, sampah yang sebelumnya menjadi beban lingkungan kini memiliki nilai tambah. Proyek dengan nilai investasi sekitar US$ 160 juta atau hampir Rp3 triliun ini juga diperkirakan menyerap 600 hingga 1.000 tenaga kerja, termasuk pekerja di sektor hulunya.

"Jadi, yang tadinya masalah, sekarang menjadi sesuatu yang positif. Sampah bisa diolah menjadi energi, lingkungan lebih terjaga, dan masyarakat juga mendapatkan manfaat," tutupnya.