NADIKABAR.COM — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menanggapi neraca perdagangan Indonesia yang surplus sebesar US$ 3,36 miliar pada September 2026. Indonesia masih bisa mempertahankan surplus perdagangan di tengah tingginya nilai impor yang melonjak hampir 20%.
Airlangga mengatakan neraca perdagangan masih dalam kondisi baik. Begitu pula dengan inflasi yang masih dalam target sasaran inflasi 2,5% ± 1,0%.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi bulanan mencapai 0,22%. Sementara inflasi tahunan terjadi 3,23%.
"Neraca perdagangan 10 bulan baik. Inflasi juga masih dalam taraf 2,5% plus minus 1% dan secara year-to-date juga masih baik," ujar Airlangga di Kementerian Koordinator Perekonomian, Jakarta Pusat, Senin (2/11/2026).
Airlangga menyebut Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia naik ke level 54,0 pada Oktober 2026, meningkat dari 52,4 pada bulan September 2026. Menurut Airlangga, peningkatan PMI menunjukkan optimisme pasar terhadap perekonomian Indonesia.
"PMI naik ke 54 juga menunjukkan optimisme pasar terhadap perekonomian," terang Airlangga.
Sebelumnya, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Ateng Hartono, mengatakan surplus neraca perdagangan pada September terutama ditopang oleh sektor non-minyak dan gas (nonmigas).
"Pada September 2026 neraca perdagangan barang mengalami surplus sebesar US$ 3,36 miliar. Surplus neraca perdagangan pada September 2026 terutama disebabkan oleh surplus pada komoditas non migas sebesar US$ 5,67 miliar," kata Ateng di kantor BPS, Jakarta, Senin (2/11/2026).