NADIKABAR.COM — Aktor Iswadi Pratama yang memerankan karakter Mata Merah di film "Laut Bercerita", menyoroti perannya yang dinilai berhasil menghadirkan teror psikologis yang intens bagi penonton saat gala perdana film tersebut di bioskop kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan.
"Saya ingin membuka tanggapan ini dengan mengutip pemikiran Bertrand Russell, bahwa penyakit terbesar dari peradaban dunia adalah ketika terlalu banyak orang bodoh yang sangat yakin, sementara terlalu banyak orang pintar yang justru ragu-ragu," ujar Iswadi di lokasi, Selasa.
Dalam pemaparannya, Iswadi Pratama memberikan ulasan filosofis mengenai dimensi kejiwaan dari karakter Mata Merah yang lekat dengan simbol kekejaman sebuah rezim.
Kehadiran karakternya di dalam film yang diadaptasi dari novel karya Leila S. Chudori ini sebagai pengingat krusial bagi publik mengenai bahaya laten dari sebuah otoritarianisme.
Iswadi membedah penokohannya melalui konsep psikologi nekrofilia, sebuah gangguan mental yang merujuk pada hasrat atau kecintaan terhadap kematian, pemusnahan, dan pembasmian.
Menurutnya, untuk menghayati peran Mata Merah, ia harus meruntuhkan rasa kemanusiaannya sendiri guna menyelami bagaimana seorang manusia bisa merasa menang dan divalidasi eksistensi hidupnya hanya dengan cara menyiksa dan mematikan orang lain.
Meskipun memegang porsi karakter yang kelam, dia menegaskan bahwa komposisi para tokoh kritis yang bersatu di atas panggung memberikan pesan optimisme yang kuat.
"Film dan novel ini memberitahu kita bahwa sesungguhnya kegelapan itu tidak pernah eksis. Bahkan dalam ilmu fisika pun kegelapan tidak ada; ia ada hanya karena tidak hadirnya cahaya. Dan bagi kita semua, film Laut Bercerita ini adalah salah satu cahaya tersebut," papar Iswadi.
Rumah produksi Pal8 Pictures menggelar konferensi pers perdana film panjang "Laut Bercerita" setelah tampil di Busan International Film Festival, Korea Selatan.
Acara yang dihadiri oleh seluruh jajaran sineas, produser, sutradara, serta para pemeran ini menjadi ruang refleksi mendalam mengenai nilai kemanusiaan, sejarah pergerakan mahasiswa era 90-an, hingga rincian proses kreatif di balik layar.
"Film ini memang mengisahkan berbagai hal tentang peristiwa-peristiwa di masa lalu, terutama di akhir era 90-an. Namun, di balik peristiwa tersebut, ada manusia, ada orang-orang, serta ada keluarga yang sebetulnya merupakan inti utama dari cerita ini. Kisah tentang keluarga Laut adalah cerita tentang kita semua, karena narasi tentang kemanusiaan itu tidak pernah mengenal batas geografis maupun waktu," kata produser Budi Setyarso.
Pemeran Biru Laut, Reza Rahadian menambahkan, ketika ditanya mengenai relevansi pergerakan era tersebut dengan masa kini ialah sama-sama menggemakan harapan.
"Saya selalu yakin bahwa kita tidak bisa berhenti untuk bertumpu pada harapan. Hal itu karena pada akhirnya, salah satu hal paling berharga yang bisa kita pegang teguh adalah harapan itu sendiri. Film ini turut menggemakan harapan-harapan tersebut. Sebuah harapan pada kekuatan suara-suara anak muda, serta harapan pada bagaimana sikap kritis mereka dalam melakukan berbagai macam hal," kata Reza.