"AI secara fundamental telah meningkatkan eskalasi risiko dalam pertahanan siber. Kecepatan pertahanan didorong oleh kelincahan operasional, bukan hanya teknologi. Organisasi yang mampu tetap unggul adalah mereka yang mengintegrasikan keamanan ke dalam operasional dan meruntuhkan silo," ujar Cin Cin Go, dalam keterangan yang diterima NadiKabar.

Riset tersebut juga mencatat bahwa adopsi teknologi AI di Indonesia saat ini paling masif berada di sektor keamanan data dan privasi. Sebaliknya, tingkat adopsi terendah berada di area Identity and Access Management (IAM)--padahal area ini merupakan sektor krusial di mana agen AI sebetulnya bisa langsung mengurangi beban kerja tim keamanan secara nyata.

Meskipun masih dihinggapi dilema adopsi agen AI, kinerja pertahanan siber Indonesia secara umum tergolong tinggi. Dengan skor rata-rata 72 dari 100, sebanyak 29% organisasi di Indonesia berhasil masuk dalam kelompok Relentless Defenders (kelompok dengan pertahanan siber paling tangguh). Angka ini jauh melampaui capaian rata-rata global yang hanya menyentuh 8%.