Ia membandingkan nilai ekspor nikel pada 2017-2019 yang hanya sekitar US$3,3 miliar dengan nilai ekspor yang mencapai US$33 miliar hingga US$34 miliar pada 2023-2024 setelah pemerintah menghentikan ekspor bijih nikel dan mendorong pembangunan industri pengolahan di dalam negeri.
Ia juga menyinggung pembangunan ekosistem baterai kendaraan listrik yang terintegrasi, mulai dari pertambangan, smelter, pengolahan menggunakan teknologi high pressure acid leaching (HPAL), produksi prekursor dan katoda, hingga sel baterai.
Menurut Bahlil, Indonesia kini telah memiliki tiga pabrik baterai. Salah satunya di Weda Bay, Maluku Utara yang baru diresmikan Presiden Prabowo Subianto.
Selain itu, terdapat fasilitas baterai hasil kerja sama LG dan Hyundai di Karawang yang diresmikan pada 2024, serta proyek PT Aneka Tambang Tbk (Antam) dan Contemporary Amperex Technology Co Limited (CATL) yang disebut akan diresmikan Prabowo pada bulan ini di Karawang.
Selain mengkaji pembangunan smelter, Bahlil meminta produksi nikel dikendalikan melalui rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB). Ia menilai produksi yang terlalu besar telah menyebabkan kelebihan pasokan atau oversupply, sehingga menekan harga nikel di pasar global.
Bahlil menyebut harga nikel saat ini berada di kisaran US$15.800 per ton. Sementara itu, kebutuhan nikel dunia disebut sekitar 3,5 juta ton per tahun, dengan kelebihan pasokan hampir 800 ribu ton.
Kondisi tersebut, menurut dia, membuat harga sulit meningkat. Karena itu, ia meminta perusahaan tambang dan industri pengolahan menahan diri dalam meningkatkan produksi.