"Harga nikel sekarang sudah di bawah US$16 ribu, US$15.800. Kenapa terjadi harga yang menurun? Karena produksi kita jorjoran. Total kebutuhan kita hanya 3,5 juta per tahun di dunia. Sekarang terjadi oversupply hampir 800 ribu ton. Bagaimana mungkin bisa harganya bagus?" kata Bahlil.
Ia meminta Dirjen Minerba Kementerian ESDM Tri Winarno mengatur pasokan melalui mekanisme RKAB. Bahlil menyatakan siap bertanggung jawab atas kebijakan pengendalian produksi tersebut meskipun berpotensi mendapat protes dari pelaku usaha.
"Jadi Pak Dirjen, menurut saya, strategi untuk mengendalikan supply and demand lewat RKAB untuk di nikel lakukan. Saya yang tanggung jawab untuk kebaikan bangsa dan negara. Enggak usah ragu-ragu. Pasti banyak yang protes, saya tahu," ujarnya.
Bahlil juga mengingatkan pengelolaan nikel perlu mempertimbangkan ketersediaan sumber daya bagi generasi mendatang. Berbeda dengan kelapa sawit yang dapat ditanam kembali setelah masa produktifnya berakhir, cadangan nikel di dalam tanah tidak dapat diperbarui dalam waktu singkat setelah ditambang.
Karena itu, ia meminta pemerintah dan pelaku usaha tidak terus menggenjot produksi ketika harga komoditas sedang rendah. Menurut Bahlil, cadangan mineral perlu dikelola dengan mempertimbangkan kondisi pasar dan potensi manfaat ekonomi pada masa mendatang.
"Kalau memang hari ini barangnya belum mahal, barangnya belum bagus, tinggalkan. Nanti ada menteri ESDM baru, ada dirjen baru, ada presiden baru, ada pengusaha baru untuk anak cucu kita untuk kelak mereka mendapatkan harga yang maksimal," tegas Bahlil.