"Kita memang kalau dari price komoditas tadi yang jalur trade tadi, ada dua dampak, ada yang memang mengakibatkan pay oil, mengakibatkan kita menaikkan harga import daripada migas kita, tapi juga untuk harga-harga yang non oilnya, kita bisa mendapatkan benefit karena harga komoditas seperti CPO, kemudian coal, berbagai macam jenis-jenis komoditas seperti nikel dan lain-lain itu mengalami peningkatan," terangnya.

Aida menambahkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih bisa menyentuh mencapai 5,61% pada kuartal I-2026 dan 5,29% pada kuartal II-2026. BI sendiri memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kisaran 4,9%-5,7% hingga akhir tahun 2026.

Sementara dari sisi inflasi, Aida menyebut kondisi Indonesia juga masih relatif terjaga yakni pada level 3,19% pada Agustus 2026. Dampak kenaikan nilai tukar dan harga komoditas, menurutnya, memang mulai terlihat pada inflasi inti, volatile food, maupun administered prices. Namun, inflasi inti masih berada di level 2,92%.

"Artinya kita masih punya ruang yang cukup baik dalam menjaga dampak dari global tadi ke inflasi dan kemudian masih dalam target inflasi kita. Proyeksi yang kami lihat ini semuanya masih di bawah 3,5% dan bahkan masih sekitar 3%. Jadi inflasinya masih baik," pungkasnya.