"Orang cuma pada belanja sampai di depan jalan situ saja, pada nggak mau masuk ke sini. Semua di depan itu pedagang kaki lima dibiarkan jualan apa saja ada, otomatis orang masuk malas. Pelanggan saya malas, bilang 'Bu, masuk ke dalam parkirnya ribet', nah mau gimana coba?" ujarnya.
Di sisi lain, pedagang yang membuka kios di dalam bangunan malah tetap dibebani iuran bulanan tanpa potongan meski pasar sepi kini pengunjung. Membuat beban para pedagang semakin menumpuk.
"Ini kan saya iuran Rp 255.000 per bulan ya, harusnya kan pasar sepi diturunin kek jadi Rp 100.000 atau Rp 150.000, kan kalau gitu kita bisa sedikit nafas ya. Bisa ada untuk beli makan atau kebutuhan di rumah. Ini nggak," keluh Narita.
Alhasil tak sedikit pedagang yang awalnya membuka kios di dalam bangunan kini beralih dengan membuka lapak di pinggir jalan depan pasar. Bahkan kondisi ini membuat area pasar basah yang biasanya diisi oleh pedagang daging dan sayuran sepenuhnya kosong.
"Yang los-los daging segala macam, daging, ayam, ikan semuanya di luar, semuanya di luar," terangnya.
Hal senada juga disampaikan oleh salah satu pedagang sembako yang masih bertahan di dalam bangunan Pasar Nangka Bungur, Tuti. Ia mengatakan bagian dalam pasar ini sudah sepi sejak ia pindah pada Agustus 2025 kemarin.
"Saya awalnya dari Pasar Gardu Asem, dipindah suruh isi yang penampungan di depan itu dari Agustus tahun kemarin. Cuma di dalam sini kosong, jadi di suruh masuk ke dalam," jelasnya.