"Dari bulan Agustus, sudah setahun sepi begini. Sepi, paling dapat satu dua orang doang. Sama saja mau di penampungan atau di sini sepi semua. Paling bedanya di sana ukuran lebih kecil, sini kan lebaran dikit, tapi ya iurannya di sini jadi lebih tinggi juga," sambung Tuti lagi.
Ia juga menilai akses pasar yang tertutup dan banyaknya lapak pinggir jalan membuat banyak pelanggan enggan masuk ke dalam bangunan. Bahkan fasilitas ATM yang berada di dalam pasar kerap kali hanya menimbulkan barisan pengunjung, namun tidak ada yang berbelanja.
"Di dalam sepi, nggak dapat duit. Diambil semua sama yang di depan. Karena kan kalau di depan mereka nggak usah parkir nggak usah apa ya, langsung naik motor berhenti, sudah. Di sini ada ATM, kadang orang suka masuk ambil duit atau apa, tapi nggak beli ke sini," jelasnya.
Belum lagi Tuti juga harus membayar iuran Rp 277.500 per bulan, belum termasuk listrik untuk penerangan. Membuat beban pengeluaran tak sesuai dengan pemasukan yang ada, hingga ia hampir merugi setiap bulan.
"Ini baru saya, benar dah, belum yang lain juga, apalagi toko-toko yang di atas, sama semua. Makanya kaya di belakang nih kan pada tutup semua, nggak kuat banyar iuran, makanya pada ditutup. Lihat saja itu ada tempelan-tempelannya (informasi penutupan kios karena ada tunggakan)," papar Tuti.
Pada akhirnya ia hanya bisa pasrah dan menunggu sampai Pasar Gardu Asem selesai direnovasi, berharap masih ada sisa-sisa langganannya dulu yang mau belanja di kiosnya nanti.