NADIKABAR.COM — Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani mengungkap potensi pertumbuhan awan hujan di Sumatra Selatan dan Kalimantan Tengah cukup tinggi dalam lima hari ke depan. Pertumbuhan awan hujan ini tak lepas dari upaya BMKG melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC).
Faisal mengatakan, pemerintah melakukan OMC secara masif di wilayah-wilayah yang terdeteksi memiliki titik panas cukup banyak.
"Kalau Kalimantan Tengah, hari ini sampai dengan lima hari ke depan ini potensinya tinggi untuk pertumbuhan awan. Kalau di Sumatra Selatan, itu mulai besok sampai lima hari ke depannya, ini tinggi," kata Teuku di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (26/10).
Teuku mengatakan sebagian wilayah di Indonesia memasuki musim hujan pada November hingga Desember, dan puncaknya pada Desember, Januari, dan Februari.Ia mengatakan hal itu pun perlu untuk diwaspadai karena sifat hujannya normal.
"Artinya dengan rata rata-rata tingkat klimatologis 30 tahun terakhir, hujan yang jatuh itu sama, tetapi durasinya lebih pendek. Untuk akhir tahun ini hingga awal tahun depan, bencana hidrometeorologi basah perlu kita waspadai bersama," ujar dia.
Ia juga mengatakan bahwa musim hujan rata-rata di seluruh Indonesia diperkirakan mundur sekitar dua hingga tiga dasarian, atau 20-30 hari akibat pengaruh fenomena El Nino.
"Musim hujan juga akan terakumulasi cukup banyak dengan durasi yang lebih pendek, dengan sifat hujan normal. Jadi, kita harus bersiap mulai sekarang," ucapnya.
Dalam menangani kebakaran hutan dan lahan, Teuku mengatakan mereka melakukan operasi modifikasi cuaca yang mengombinasikan penggunaan dry ice dengan garam (NaCl). Ia mengatakan atas arahan Presiden, operasi ini dilaksanakan secara masif.
"Kami menggunakan juga pesawat Hercules, CN-295, hingga pesawat lain yang dimiliki oleh TNI," ujar dia.
Sebelumnya, BMKG menyebut hujan mulai mengguyur wilayah Sumatra dan Kalimantan usai operasi modifikasi cuaca dengan metode dry ice dan garam (NaCl) diterapkan.
Hujan dengan intensitas tinggi dilaporkan terjadi di wilayah seperti Sumatra Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan setelah OMC dilakukan dengan menggabungkan dry ice dan Nacl.Menurut Faisal, pihaknya bersama Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Wakil Kepala Badan Pengelola Gambut Nasional mendatangi wilayah Sumatra Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan untuk mengendalikan permasalahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Faisal menyebut selama dua sampai empat minggu sebelum datangnya musim hujan, kebakaran meningkat di sejumlah wilayah. Sehingga, pihaknya pihaknya mencoba menerapkan OMC dry ice dan menebar garam NaCl untuk mengurangi untuk mengurangi kepekatan asap.
"Saat ini, kita harus terus memperkuat karena menjelang dua sampai empat minggu sebelum datangnya musim hujan, kebakaran cukup meningkat ya di beberapa lokasi. Sehingga, kami mencoba untuk menerapkan dry ice," kata Faisal.
Menurut Faisal, OMC dry ice dilakukan untuk mengurangi kepekatan asap dengan membongkar lapisan inversi yang membuat asap terperangkap di bawah ketinggian 6.000 sampai 7.000 kaki.
Kemudian, kata Faisal, setelah asapnya naik, matahari dapat memicu penguapan dan terbentuknya awan hujan. Setelah itu, BMKG melakukan penyemaian awan menggunakan Nacl.