NADIKABAR.COM — Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi memberikan laporan kepada Presiden Prabowo mengenai pengumuman MSCI yang mengancam menurunkan klasifikasi pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.
Wanita yang biasa disapa Kiki itu menjelaskan bahwa berdasarkan laporan MSCI pada Juni lalu, seharusnya pengumuman tersebut dilakukan pada November, namun secara tiba-tiba MSCI mengeluarkan pengumuman itu bulan ini.
Meski demikian, Kiki menyampaikan bahwa dalam laporan MSCI pada Juni lalu, Indonesia memperoleh penilaian positif pada 16 dari 18 indikator yang dibandingkan dengan negara-negara emerging market. Indonesia juga telah melakukan sejumlah pembenahan terkait aturan free float, keterbukaan kepemilikan saham, hingga klasifikasi investor.
"Kalau kita melihat di sini, Indonesia dibandingkan dengan negara-negara lain terkait dengan ketentuan untuk initial public offering yang 15 sampai 25%. Kemudian disclosure, Bapak dan Ibu, kita bisa melihat kita ini 1% sudah kita buka, sementara market lain tuh di atas 5%. Kemudian untuk klasifikasi dan tipe investor, kita sudah punya 39 tipe klasifikasi investor yang ini sangat granular dibandingkan dengan negara lain yang bahkan tidak ada rinciannya dan sebagainya," ujarnya dalam Sidang Kabinet yang dikutip dari YouTube Sektretariat Presiden, Jumat (23/10/2026).
"Dan ini adalah hal-hal yang sudah kita lakukan terkait dengan concern MSCI dan langkah yang sudah kita lakukan," sambungnya.
Meski begitu, ia mengakui terdapat catatan dari MSCI yang memang perlu ada pembenahan di pasar modal Indonesia. Salah satunya yakni penegakan hukum di pasar modal yang dinilai belum cukup tegas.
"Ada satu hal yang mungkin menjadi catatan yang kita juga objektif menerima adalah melalui enforcement yang dipandang belum cukup keras," katanya.
Dari catatan itu, Kiki melaporkan ke Prabowo bahwa OJK telah menjatuhkan sanksi yang diklaimnya terbesar sepanjang sejarah. Di mana OJK menjatuhkan sanksi sebesar Rp 1,5 triliun kepada pihak terkait yang melakukan perdagangan terkoordinasi atau coordinated trading.
OJK juga menindaklanjuti dugaan praktik manipulasi pasar yang melibatkan dua perusahaan lain. Usai hal tersebut dilakukan, Kiki menyebutkan kini kondisi pasar modal Indonesia sudah membaik.
"Alhamdulillah, dua hari ini market kita sudah rebound. Ini kekuatan domestik, Bapak, karena asing masih net sell dalam 2 hari terakhir sebesar Rp 3,3 triliun dan kemarin itu masih Rp 1 triliun. Tapi ini kekuatan domestik yang melakukan buyback dan investor retail kita yang juga luar biasa," terangnya.