NADIKABAR.COM — Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2026 mencapai 5,47% secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka itu lebih tinggi dari perkiraan sejumlah lembaga atau ekonom yang memproyeksikan ekonomi Indonesia akan tumbuh lebih lambat.

Deputi Bidang Neraca dan Analis Statistik Badan Pusat Statistik (BPS), Edy Mahmud mengatakan angka tersebut dihitung berdasarkan metodologi statistik yang sudah terstandarisasi internasional. Perbedaan proyeksi yang terjadi dengan lembaga lain diduga karena model penghitungannya yang tidak sama.

"Proyeksi yang dilakukan oleh sejumlah lembaga penelitian kita tidak tahu persis. Barangkali penelitian itu pendekatannya, pemodelan dan estimasi yang berdasarkan asumsi, serta indikator yang tersedia. Oleh karena itu bisa jadi karena perbedaan angka itu," kata Edy dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Kamis (5/11/2026).

Edy menjelaskan penghitungan pertumbuhan ekonomi oleh BPS mengacu pada System of National Accounts (SNA) 2008. Metodologi itu juga digunakan oleh kantor statistik nasional di berbagai negara.

Selain itu, BPS menggabungkan berbagai sumber data dalam proses penghitungan produk domestik bruto (PDB). Data dikumpulkan secara internal maupun eksternal seperti pencatatan administrasi kementerian/lembaga, BUMN, hingga sumber data relevan lainnya.

"BPS menggunakan data yang memang sudah kita dapatkan dengan jumlah yang sangat besar. Untuk satu triwulan bahkan jenis data yang dipakai untuk penghitungan PDB secara nasional itu lebih dari 3.000 jenis data yang digunakan," ungkap Edy.