NADIKABAR.COM — Melonjaknya harga kedelai serta tingginya biaya operasional membuat margin keuntungan dari produksi tahu semakin menipis hingga terancam merugi. Bahkan saat ini kondisi para perajin sudah seperti 'kerja bakti' imbas penurunan keuntungan ini.
Di tengah kondisi sulit ini, para perajin tahu tak lagi bisa mengandalkan hasil produksi tahu untuk kelangsungan usahanya. Namun usaha mereka kini hanya bisa bergantung pada hasil sampingan berupa ampas tahu dan air limbah sisa olahan kedelai.
Kondisi ini seperti yang dialami Sudiarto (63), perajin tahu yang telah berproduksi sejak 1997 di sudut kawasan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Ia mengatakan saat ini pendapatan kotor dari produksi tahu sudah hampir habis tergerus oleh tingginya harga kedelai yang sepenuhnya impor dari AS.
Secara rinci ia menjelaskan modal produksi tahu per kuintal saat ini mencapai Rp 1,5 juta hingga Rp 1,55 juta. Biaya itu sudah mencakup harga kedelai sekitar Rp 11.300-11.500 per kilogram, ongkos tenaga kerja, kayu bakar sekitar hingga per hari, serta tagihan listrik.
Sementara untuk satu kuintal kedelai ini, ia harus bisa memproduksikan sekitar 50 papan tahun yang dijual ke pasar atau para pedagang langganannya seharga Rp 33.000. Sehingga hasil penjualan tahu dari produksi satu kuintal kedelai rata-rata dapat memberikan pendapatan kotor sekitar Rp 1,65 juta.
"Buat kacang Rp 11.500 lah, terus buat tenaga Rp 200.000, buat kayu Rp 100.000 per kuintal. Emang kita nggak mikirin listrik juga ya kan? Ya kira-kira Rp 1.500.000 sampai Rp 1.550.000 itu untuk pengeluaran. Pokoknya kalau diuangkan Rp 1.650.000," katanya saat ditemui NadiKabar di lokasi produksi tahu miliknya, Senin (5/10/2026).
Masalahnya dengan selisih pendapatan dari modal produksi yang sangat tipis itu, pabrik miliknya berisiko mengalami kerugian jika terjadi kesalahan teknis saat mencetak tahu. Alhasil penjualan produk sampingan dari sisa produksi seperti ampas tahu dan limbah air kedelai menjadi penopang utama untuk menutupi biaya untuk bertahan.
"Ampas ada yang ambil kebanyakan untuk gembus, oncom, kayak gitu. Gembus yang putih doang yang pakai plastik. Biasanya ada yang ambil, dia bikin itu," ujar Sudiarto.
Sudiarto mengatakan setiap harinya pabrik rumah miliknya itu bisa mengolah sekitar lima kuintal atau 500 kilogram kedelai per hari. Dari jumlah itu, pabriknya mampu menghasilkan sekitar 250 papan tahu dengan sisa produksi sekitar 25 karung ampas tahu yang rutin dibeli.
"Kita hanya tambahannya ampas saja itu ya. Kita ampas diambilin setiap hari. Kalau kita bikin lima kuintal, berarti bisa sampai 25 karung (ampas tahu). Per karungnya kita jual Rp 10.000," terang Sudiarto.
"Di sini kita kasih ke tiga tempat, kita bagi-bagi. Ada yang kita kasih 10 karung, ada yang lima, sisanya kita kasih 10 karung. Tapi ya kadang mereka juga bayarnya lama kan, baru bulan depan di bayar," paparnya lagi.
Selain limbah ampas padat, air sisa olahan kedelai juga dimanfaatkan dan dibeli oleh para peternak sapi perah di sekitar lokasi. Air sisa olahan tersebut dinilai memiliki kandungan nutrisi yang baik untuk menjaga stamina serta meningkatkan produksi susu pada induk sapi yang sedang menyusui.
"Airnya (sisa olahan kedelai) buat sapi. Buat susu, kalau sapinya lagi menyusui itu air bagus. Pakai air itu buat minumnya sapi," tambahnya.
Kombinasi hasil penjualan ampas dan air limbah olahan kedelai inilah yang menjadi penyambung napas bagi usaha Sudiarto di tengah gempuran kenaikan harga bahan baku impor.