NADIKABAR.COM — Lahan gambut berkaitan erat dengan persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan, Sumatra, Sulawesi, dan Papua. Kebakaran lahan gambut sulit dipadamkan karena api merambat dan membara di bawah permukaan tanah (subsurface smoldering), meskipun api di permukaan atas terlihat sudah padam.
Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua memiliki kawasan lahan gambut yang terbentuk melalui proses alam selama ribuan tahun. Keberadaan gambut di pulau-pulau tersebut tidak lepas dari kondisi lingkungan yang memungkinkan sisa tumbuhan menumpuk dan tidak terurai sempurna.
Gambut terbentuk dari akumulasi sisa tumbuhan, seperti daun, ranting, akar, dan bagian tanaman lainnya, yang mengalami penguraian tidak sempurna. Proses ini umumnya berlangsung di lingkungan yang jenuh air dan kekurangan oksigen, sehingga aktivitas penguraian bahan organik melambat.
Penelitian 'Hydrology and peat-land development in Indonesia' oleh Nyoman Sumawijaya dari Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (sekarang BRIN) yang diterbitkan pada 2006 menjelaskan bahwa kondisi tergenang air dan minim oksigen merupakan faktor utama pembentukan gambut tropis.
"Kondisi tanah yang tergenang air dan kekurangan oksigen merupakan faktor utama yang menentukan pembentukan gambut di wilayah tropis," tulisnya.
Kondisi tersebut dapat ditemukan di sejumlah dataran rendah, kawasan pesisir, cekungan sungai, dan wilayah pedalaman yang memiliki tata air yang mendukung akumulasi bahan organik.
Namun, tidak semua dataran rendah otomatis menjadi gambut. Pembentukannya juga bergantung pada ketersediaan bahan organik, kondisi vegetasi, bentuk bentang alam, dan kestabilan tata air dalam jangka panjang.
Keberadaan gambut di empat pulau tersebut didukung penelitian pemetaan nasional yang diterbitkan dalam jurnal Geoderma pada 2021. Studi berjudul 'Revisiting Tropical Peatlands in Indonesia: Semi-detailed Mapping, Extent and Depth Distribution Assessment' memperkirakan luas gambut Indonesia mencapai 13,43 juta hektare.
Dari jumlah tersebut, sekitar 5,85 juta hektare berada di Sumatra, 4,54 juta hektare di Kalimantan, 3,01 juta hektare di Papua, dan 24 ribu hektare di Sulawesi. Angka tersebut merupakan estimasi berdasarkan pemetaan yang dipublikasikan pada 2021. Perbedaan luas itu memperlihatkan bahwa gambut tidak tersebar merata. Sumatra, Kalimantan, dan Papua memiliki kawasan gambut yang jauh lebih luas dibandingkan Sulawesi.
Gambut tidak terbentuk dalam waktu singkat. Akumulasi bahan organik dapat berlangsung selama ribuan tahun, sementara perubahan lingkungan turut memengaruhi perkembangan lapisan gambut. Studi 'Peatland inception and development across Kalimantan, Indonesia' yang diterbitkan jurnal Scientific Reports pada 2026 menelusuri sejarah pembentukan gambut pesisir dan pedalaman di Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur.
Peneliti menganalisis 15 inti gambut menggunakan 55 hasil penanggalan radiokarbon. Hasilnya menunjukkan bahwa gambut pesisir di lokasi penelitian mulai terbentuk pada pertengahan zaman Holosen, bertepatan dengan kondisi muka laut yang tinggi setelah zaman es. Sementara itu, pembentukan gambut pedalaman di lokasi yang diteliti telah dimulai sejak Pleistosen akhir.
Temuan ini memperlihatkan bahwa gambut pesisir dan pedalaman tidak selalu memiliki sejarah pembentukan yang sama. Bentuk bentang alam dan kondisi hidrologi turut memengaruhi kapan bahan organik mulai terakumulasi dan seberapa lama proses tersebut berlangsung.
"Keseimbangan air yang terjaga sangat penting bagi pertumbuhan gambut dalam jangka panjang dan penyimpanan karbon," kata para peneliti.
Kondisi basah yang mendukung pembentukan gambut juga berperan dalam menjaga kestabilan ekosistemnya. Ketika tata air terganggu, misalnya akibat drainase atau perubahan penggunaan lahan, muka air tanah dapat turun dan lapisan gambut menjadi lebih kering.
Gambut yang mengering lebih rentan terbakar ketika bertemu sumber penyalaan dan kondisi cuaca yang mendukung. Jika api merambat ke lapisan bawah permukaan, pembakaran dapat berlangsung tanpa nyala besar yang mudah terlihat.
Karakteristik tersebut menjadi salah satu alasan kebakaran gambut sulit ditangani. Petugas tidak cukup hanya memastikan api di permukaan padam, tetapi juga perlu memastikan tidak ada bara yang masih bertahan di lapisan gambut.
Karena itu, pencegahan karhutla di kawasan gambut tidak hanya bergantung pada pemadaman ketika kebakaran terjadi. Menjaga tata air, mencegah pengeringan berlebihan, serta mengurangi sumber penyalaan juga menjadi bagian penting dalam perlindungan gambut.