NADIKABAR.COM — Perum Bulog melampaui target penyerapan gabah dan beras dalam negeri sebesar 4,25 juta ton setara beras hingga 28 Oktober 2026. Pencapaian itu telah melalui proses panjang yang tak lepas dari hasil kerjasama berbagai pihak, mulai dari penyerapan gabah di tingkat petani hingga pengolahan menjadi beras.

"Pencapaian pengadaan 4 juta ton itu tidak serta-merta hanya, 'beras sudah di gudang', tetapi proses panjang yang dijalani gabah kering panen ini sampai menjadi beras," kata Manajer Hubungan Eksternal Divisi Humas Perum Bulog, Dicki Yusfarino di Sentra Penggilingan Padi (SPP) Bulog di Kabupaten Kendal, Jumat (30/10/2026).

Perum Bulog pun sempat menunjukkan tahapan penyerapan gabah dari para petani Kendal, hingga pengolahan gabah yang harus dilalui sebelum menjadi beras yang siap didistribusikan.

Tim Jemput Pangan Perum Bulog mendatangi langsung para petani di persawahan di Kabupaten Kendal, Kamis (29/10). Mereka langsung membeli, memeriksa kondisi, dan menimbang gabah dari para petani di sana.

Wakil Pemimpin Cabang Perum Bulog Semarang, Kurnia Pradipta mengatakan, penyerapan gabah dilakukan melalui koordinasi dengan dinas pertanian, penyuluh pertanian lapangan (PPL), Babinsa, dan gabungan kelompok tani (Gapoktan), untuk mengetahui lokasi panen hingga memperkirakan volume gabah.

"Ketika ada informasi petani akan panen, Tim Jemput Pangan Bulog langsung berkoordinasi dan turun ke lokasi. Kami menyiapkan armada, petugas pemeriksa kualitas, hingga mekanisme pembayaran agar proses penyerapan dapat berjalan lancar dan memudahkan petani," kata Kurnia.

Kurnia mengatakan, Bulog membeli gabah kering panen (GKP) dengan harga pembelian pemerintah (HPP) Rp 6.500 per kilogram sesuai ketentuan yang berlaku. Persaingan dengan pembeli swasta memang menjadi tantangan, tetapi Bulog tetap berkoordinasi dengan petani agar gabah hasil panen bisa tetap diserap.

"Di lapangan itu kadang ada yang memang di atas, ada mungkin mereka jual ke tengkulak dan sebagainya. Tapi kemungkinan lebih mudah kita, terkait pembayaran dan sebagainya," ujar Kurnia.

Ia juga menjelaskan, kebijakan penyerapan gabah any quality bukan berarti seluruh kondisi gabah dapat diterima. Gabah tetap harus diperiksa untuk memastikan kondisinya memungkinkan untuk diolah, terutama dalam proses pengeringan.

Setelah dibeli, gabah dari petani Kendal itu kemudian dibawa ke SPP Bulog Kendal untuk menjalani pemeriksaan kualitas dan pengolahan. Truk pembawa gabah akan ditimbang di jembatan timbang, serta dianalisa kualitasnya.

"Gabah itu dikeringkan, kemudian digiling menjadi beras, beras yang sudah digiling kemudian dikirimkan ke gudang Bulog, itu menjadi stok secara nasional," kata Manajer Operasi SPP Kendal, M Aziz Latif di SPP Kendal, Jumat (30/10).

Dalam proses produksi itu, dilakukan pula penyortiran terhadap beras yang rusak, yakni beras berwarna hitam, kuning, ataupun kusam. Gabah yang masih terbawa juga ikut disortir, dan turun menjadi produk berlabel 'reject' yang biasanya diambil untuk pakan.

Adapun, Aziz menjelaskan, SPP Kendal yang berluas sekitar 1,5 hektare itu memiliki kapasitas pengeringan sekitar 120 ton gabah per hari. Sementara itu, kapasitas penggilingannya mencapai sekitar 50 ton per hari.

"Proses pengeringan membutuhkan waktu sekitar 16 jam, kemudian giling sekitar 8 jam. Jadi dari awal sampai akhir butuh waktu sekitar 1-2 hari kerja," jelasnya.

"Fasilitas pengeringan kami menggunakan sistem drying, jadi kalau kadar air padinya 25-30 persen, bisa langsung dikeringkan, tidak tergantung matahari," lanjutnya.

Selain mendukung proses pengadaan untuk penugasan pemerintah, SPP Kendal juga memproduksi beras komersial. Pantauan NadiKabar di SPP Kendal, tampak beras yang sudah selesai digiling juga ada yang tengah dikemas menjadi Beras Punokawan yang akan didistribusikan ke toko retail modern di Kota Semarang.

"Tahun ini pasar ritel modern juga membutuhkan pasokan, jadi kami lebih konsen ke produksi beras untuk komersial," jelasnya.

"Untuk komersial kami total giling 5,6 ribu ton gabah, kalau rice to rice sekitar 2 ribu ton, total 8,1 ton untuk komersial," lanjutnya.

Setelah melalui proses pengolahan, beras untuk penugasan pemerintah selanjtnya dikirim ke gudang Bulog. NadiKabar juga berkesempatan melihat gudang beras yang berlokasi di Tambakaji, Kota Semarang.

"Di Kancab Semarang sendiri saat ini total stoknya saat ini mencapai sekitar 81.600 ton, ada 6.300 ton untuk CBP, termasuk SPHP sudah dikemas 5 kg," kata Pemimpin Cabang Bulog Kancab Semarang, Yudha Aji Pribawa.

Ia mengatakan, Bulog Semarang memiliki delapan kompleks pergudangan dengan total kapasitas sekitar 105 ribu ton. Bulog juga bekerja sama dengan pihak swasta untuk menggunakan jasa pergudangan tambahan karena volume pengadaan yang cukup banyak.

"Karena saking banyaknya jemput gabah, kemarin kita bisa mencapai 4 juta ton, ini fasilitas yang kita punyai juga harus ditambah dengan beberapa gudang sewa, sehingga total kapasitas yang masih tersisa 20 ribu ton untuk persiapan saat memasuki panen," terangnya.

Sementara itu, lanjut Yudha, pengeluaran beras Bulog Semarang untuk berbagai kebutuhan pemerintah rata-rata mencapai sekitar 20-22 ribu ton per bulan. Stok saat ini disehut masih bisa memenuhi kebutuhan sekitar 4-5 bulan ke depan.

"CBP kita digunakan untuk berbagai keperluan, pertama bantuan pangan, stabilisasi harga dan pasokan, cadangan untuk bencana alam, ada juga sebagian alokasi untuk TNI dan Polri untuk tujuan tertentu," urainya.

Demi menjaga kualitas beras selama penyimpanan, pihaknya juga melakukan pemeriksaan saat penerimaan, termasuk memeriksa kadar air hingga kondisi fisik beras. Perawatan gudang juga dilakukan secara berkala.

"Kita lakukan spraying dan fumigasi, kontrol harian kita lakukan untuk melihat kebersihan, pengendalian hama. Kalau untuk ketahanan di Kancab Semarang mencapai 4-5 bulan," kata Yudha.

Dia pun berharap, kualitas penanganan pascapanen oleh petani dan penggilingan dapat terus ditingkatkan agar proses pengolahan lebih optimal dan menghasilkan beras berkualitas.

"Jadi perjalanannya gabah cukup panjang, dari petani diangkut oleh Tim Jemput Gabah, dibawa ke penggilingan, diproses, baru disimpan," jelasnya.