Ricky menilai bisnis DBS Indonesia di segmen perbankan korporasi, treasury, pengelolaan kekayaan, dan nasabah institusi berpotensi melengkapi kekuatan BCA di pasar domestik, termasuk jaringan simpanan, layanan pembayaran, dan distribusi ritel.

Meski demikian, ia mempertanyakan seberapa besar tambahan keuntungan yang bisa diperoleh BCA dari transaksi tersebut. Dalam unggahannya, Ricky membandingkan laba bersih DBS Indonesia sekitar Rp1,72 triliun untuk tahun buku 2025 dengan laba BCA sebesar Rp45,2 triliun dalam sembilan bulan pertama 2026.

Perbandingan itu menunjukkan skala laba kedua bank berbeda cukup jauh, meski belum memperhitungkan potensi sinergi maupun penyesuaian transaksi.

Ricky juga menyoroti sejumlah hal yang perlu diketahui sebelum menilai transaksi tersebut, seperti valuasi DBS Indonesia, rasio pertukaran saham, jumlah saham baru BCA yang akan diterbitkan, dampak terhadap laba per saham, tingkat pengembalian ekuitas, kecukupan modal, serta efisiensi biaya BCA.

Menurut Ricky, transaksi dengan harga yang tepat berpotensi menguntungkan kedua pihak. Namun, tanpa kejelasan mengenai valuasi, struktur kepemilikan, sinergi yang diharapkan, dan tujuan strategis para pemegang saham, rumor tersebut belum dapat dianggap sebagai sentimen positif bagi saham BCA.

"Untuk saat ini, saya akan memperlakukan kabar ini sebagai spekulasi sampai ada konfirmasi resmi dari BCA, DBS, atau regulator terkait," tulis Ricky.